Suara Tiga Jiwa yang Melabrak Kemanusiaan Kita

Indonesia merupakan salah satu negara yang sebagian besar masyarakatnya mengecam keras hubungan sesama jenis. Melalui agama dan paradigma-paradigma etika yang menjadi kaca mata moral, perilaku seks yang lebih terkenal dengan sebutan LGBT (Lesbian, Gai, Biseks, Transgender) ini dinilai menyimpang. Para pelakunya pun, tak jarang, mendapat stempel “tidak normal.”

Dalam survei yang dilakukan oleh Wahid Foundation bersama Lembaga Survei Indonesia pada Maret-April 2016, LGBT merupakan minoritas yang paling tidak disukai di Indonesia. Akibatnya orang-orang LGBT acap kali mendapat kekerasan, baik secara fisik maupun psikis.

Di tengah situasi demikianlah, novel berjudul “Rima-Rima Tiga Jiwa” lahir dari tangan seorang penulis muda bernama Akasa Dwipa. Novel ini menghadirkan representasi dari kehidupan orang-orang LGBT secara lugas dan cukup vulgar. Namun, tak hanya soal homoseks, novel ini sejatinya berusaha menghadirkan kerasnya dunia jalanan yang dialami oleh orang-orang marjinal seperti waria dan pelacur.

Sebelumnya, dalam berita yang dirilis purwokertokita.com, Akasa Dwipa mengatakan tulisannya ini lahir dari pengalamannya ketika hidup di kota Solo selama belasan tahun. Semua pengalamannya itu kemudian diejawantahkan menjadi tiga tokoh sentral dalam novel ini.

Tokoh pertama adalah seorang waria kaya bernama Silvy (Sagito), ia jatuh cinta pada Susanto, lelaki yang bercita-cita menjadi penulis namun mengalami berbagai keputusasaan dalam hidupnya. Susanto yang merupakan tokoh sentral kedua, pernah patah hati lantaran kekasihnya, Elin, kepergok selingkuh dengan supir truk. Namun, cintanya kembali menyala ketika bertemu dengan seorang pelacur tua bernama Rima, si tokoh sentral ketiga. Masing-masing tokoh tersebut memiliki karakter yang menurut saya pribadi, cukup unik untuk dieksplorasi dan didiskusikan.

Silvy

Sebelum menjadi waria kaya, Silvy atau Sagito merupakan anak lelaki sebatang kara. Orangtuanya meninggal hanyut di sungai, sementara keluarganya yang lain dibunuh oleh orang-orang berseragam. Nasib kemudian menuntun Silvy ke dunia LGBT. Ia, yang sejak belia sudah memiliki orientasi seksual pada sesama jenis, betah tinggal di dunia tersebut lantaran bisa mendapat kenikmatan sekaligus uang. Singkat cerita, Silvy akhirnya mendapat kesejahteraan secara finansial dengan membuka usaha salon dari uang yang ia kumpulkan dari hasil malang melintang di dunia waria.

Namun Silvy tak menduga, pertemuannya dengan Susanto akan memengaruhi hidupnya. Ia ketularan semangat perubahan Susanto dan mereka berdua membangun perpustakaan di rumah Silvy yang kemudian diberi nama “Kuil Dunia Baru.” Bersama Susanto, Silvy pun bercita-cita membuat suatu karya yang akan menggemparkan dunia.

Sampai akhirnya Susanto memilih hidup bersama seorang perempuan bernama Elin. Silvy sakit hati, namun ia tetap menerima keputusan Susanto dengan lapang. Membuka pintu rumahnya kapanpun. Bahkan saat Susanto hanya menjadikan Silvy sebatas tempat pelarian atas kepengecutan hidupnya sendiri.

Dalam novel ini, kita bisa melihat ada perubahan paradigma cinta Silvy terhadap Susanto. Silvy tadinya begitu menginginkan Susanto dengan luapan cinta yang eros (berunsur seksualitas), namun seiring berjalannya waktu ia malah menganggap Susanto sebagai anak. Dan dengan begitu, maka kasih sayang Silvy pun beralih dari yang berunsur seksual menjadi cinta sebagai orang tua yang tak mengharap namun lebih suka memberi.

Berthold Damshauser Bonn, dalam esainya di jurnal sajak, menyebut cinta manusia memiliki hierariki. Cinta yang  tanpa pamrih disebut agape. Ini sebuah konsep yang berasal dari Yunani seperti juga halnya eros. Agape, kata Bonn, merupakan sebuah puncak perkembangan etis manusia. Sebab agape adalah konsep cinta yang meluas, ia menyasar semua kalangan, bukan hanya mereka yang menderita atau yang disuka.

Namun apakah cinta Silvy bisa dikatakan agape lantaran ia tetap mencintai Susanto meski dua kali ditinggalkan? Saya rasa tidak demikian. Silvy memang tetap membantu Susanto dalam banyak hal, terutama secara moral dan materil. Ketika Susanto terpuruk akibat dikhianati Elin, Silvy hadir memberi kenyamanan padanya. Ketika Susanto telah sepenuhnya bangkit dan memilih hidup dengan seorang pelacur, Silvy pun masih tetap perhatian. Bahkan diam-diam, memberi uang kepada Susanto di tengah kehidupannya yang serba rumit.

Tetapi sebagai manusia, Silvy masih memendam rasa tidak suka, terutama kepada Rima kekasih Susanto. Jadi, dalam novel ini, Silvy mencintai tanpa pamrih hanya kepada Susanto seorang. Dan oleh karena itu, Silvy  belum mendekati agape yang merupakan tingkat teratas dari hierarki cinta. Karena agape seharusnya universal, ia adalah cinta yang memayungi semua mahluk tanpa terkecuali. Layaknya Tuhan.

Dalam konsep cinta ala Yunani itu, masih ada yang bernama philia atau sederhananya cinta relasional. Barangkali, cinta Silvy kepada Susanto lebih pas dikategorikan Philia. Ia tak memiliki hubungan darah dengan Susanto tetapi rela menganggap Susanto sebagai anak. Menerimanya tanpa syarat.

Susanto

Susanto adalah tokoh berkepribadian rumit. Akasa menciptakannya sebagai sosok pria yang gemar berhubungan seks, tidak saja dengan perempuan namun juga lelaki, alias biseksual. Namun Susanto juga merupakan lelaki yang menjunjung tinggi humanisme. Hal itu tercermin dari jalan hidupnya yang memilih menjadi seorang vegan (pemakan tumbuhan) lantaran begitu menyayangi binatang.

Bagi Susanto, kekejaman manusia terhadap binatang adalah awal dari segala permasalahan di muka bumi ini. Oleh karena itu, Susanto menawarkan sebuah tatanan hidup baru.

“Diawali membangun belas kasih terhadap hewan, kita akan melihat jalan keluar untuk semua masalah kehidupan. Kemiskinan, kelaparan dunia, kerusakan alam, diskriminasi, rasisme, peperangan. Semua ini akan selesai bila dirunut dari akar yang berupa perlakuan kejam manusia terhadap hewan. (132-133)”

Gagasan Susanto mengenai kehidupan vegan dan empatinya terhadap binatang merupakan bentuk perlawanan atas antroposentrisme. Keyakinan bahwa manusia merupakan pusat segalanya, sang superior. Dengan kecerdasan dan keahliannya, manusia menjadi penguasa alam. Pada titik ini, manusia pun tergelincir, cinta mereka menyempit hanya pada sesama seraya memandang rendah terhadap yang bukan manusia.

Di dunia ini, yang bukan manusia acap kali menjadi komditi. Binatang salah satunya. Manusia menjadikan mereka kebanyakan sebagai barang konsumsi atau properti. Beberapa malah dipekerjakan dulu. Seperti Kerbau yang digunakan untuk membajak Sawah atau kuda sebagai penarik delman. Setelah tak dibutuhkan, mereka bukannya pensiun menikmati masa tua bersama anak-istri sembari berlarian di atas hijau rerumputan. Satu-satunya yang menanti mereka setelah tak digunakan oleh manusia hanya satu hal: tebasan golok!

Sungguh menyedihkan nasib binatang. Begitulah pikir Susanto. Lantas, pandangan itu pun memenuhi hidupnya dengan kesinisan. Belum lagi, masalah percintaannya dengan Rima yang tak kalah rumit namun luar biasa. Bayangkan, Susanto setiap malam harus rela melihat Rima melayani para hidung belang. Mulai dari preman sampai Kopasus.

Tentu bukan keputusan yang mudah bagi Susanto, sebagai laki-laki yang masih muda, untuk menjatuhkan pilihan hidup bersama pelacur semacam itu. Ada berbagai pergolakan batin sebelum memilih, salah satunya tentu karena ia merasa dirinya merupakan pemuda yang memiliki gagasan-gagasan yang takkan pernah bisa dimengerti oleh Rima. Pada akhirnya, konsekuensi moral Susantolah yang membuatnya tergerak untuk hidup bersama Rima. Moral untuk selalu berdiri, membela mereka yang tertindas.

Rima

Seorang pelacur yang menginjak usia kepala empat, pernah menikah beberapa kali, dan menanggung hidup dua anak serta satu orang Ibu. Dialah Rima. Tokoh ketiga yang tak kalah kelam nasibnya. Pergulatan hidup yang kejam dengan para lelaki menuntunnya menapaki jalan terjal menjadi seorang pelacur.

Ketika masih muda, Rima sempat bertunangan. Namun, hubungannya kandas lantaran kekasihnya memilih perempuan lain. Padahal Rima telah mengandung anak hasil dari hubungan mereka yang tergesa-gesa. Akhirnya, Rima terpaksa menggugurkan kandungannya.

Ketika Ibunya dilanda kanker rahim, Rima yang menjadi tulang punggung keluarga, memutuskan mencari pekerjaan. Nasib baik bersambut, kala itu seorang perempuan menawarinya pekerjaan di negeri seberang. Tergiur dengan tawaran tersebut, Rima memutuskan untuk pergi. Akan tetapi, harapannya berbanding terbalik dengan takdir yang telah menunggunya. Ia jatuh ke tangan penjual perempuan.

Selanjutnya Rima disuruh untuk melayani seorang lelaki berkepala botak yang kaya. Di luar dugaan, usai percintaan sepihak itu, sang lelaki menawarkan kebaikan bersyarat. Ia bersedia membawa Ibu Rima ke Rumah Sakit, namun Rima mesti bersedia menjalani kawin kontrak bersamanya. Karena berbagai desakan kebutuhan, tanpa pikir panjang Rima menerima tawaran tersebut. Singkat cerita ia merasakan hidup dalam kemewahan kala menjadi istri simpanan. Tetapi hal itu, tak berlangsung lama. Sebuah pertengkaran mengakhiri kemewahan yang dirasakan Rima. Ia dan ibunya diseret keluar, padahal saat itu Rima tengah dalam keadaan hamil.

Beruntung ia masih memiliki tabungan dari hasil pemberian si lelaki botak. Tabungan itu ia pakai untuk membeli rumah dan membuka warung. Setelah hidup tenang selama beberapa waktu, Rima pun melahirkan. Sayang, anaknya yang kedua ini meninggal tak lama setelah lahir. Rima dirundung kesedihan bersamaan dengan penyesalan atas anak pertamanya yang digugurkan.

Untuk mengatasi rasa sedih sekaligus mencari penghasilan, Rima menjajakan dirinya di tempat pelacuran. Dari sinilah titik balik kehidupannya dimulai. Rima bertemu dengan beraneka macam lelaki. Bahkan sempat juga menikah dengan salah seorangnya.

Bersama suami keduanya, Rima membangun tempat penampungan Pekerja Seks Komersial (PSK). Ia bekerja bersama calo-calo untuk menggaet korban perempuan agar masuk ke sarangnya.  Meski beberapa kali, Rima juga menjajakan diri, selingkuh di belakang suaminya sambil bermain-main dengan narkoba. Sampai suatu ketika ia ketahuan selingkuh. Sang suami murka lalu menceraikannya. Tak hanya itu, karena terjerat kasus penggunaan narkoba, Rima terpaksa menjual harta bendanya.

Akasa menghadirkan Rima sebagai tokoh perempuan yang kalah dan tertawan oleh kelamnya hidup. Namun, Rima juga sekaligus menjadi tokoh yang mampu bertarung dan menang dalam kekalahannya sendiri. Berkali-kali, nasib menarik-ulur kehidupannya yang selalu tak lepas dari dominasi kaum lelaki. Kadang begitu hitam-putih, kadang abu-abu.

Himpitan kekerasan struktural juga disentil oleh Akasa sedikit sebagai awal mula jalan hidup pelacur Rima. Seperti ketidakmampuannya membawa sang Ibu berobat, padahal penyakit kanker rahim bukan kanker sembarangan. Sudah menjadi perbincangan umum, bahwa rumah sakit acap kali diskriminatif. Ia menerima pasien berdasarkan hierarki dan kekayaan. Mereka yang kaya, berkedudukan, memiliki penghasilan jutaan bisa memesan ruangan sesuka hati dengan fasilitas yang memadai. Sementara mereka yang miskin, cenderung sulit dilayani oleh rumah sakit.

Dalam kisah lain, Akasa juga menghujamkan kritik keras terhadap aparat keamanan negara seperti polisi.  Lewat Rima, Akasan menarasikan bagaimana polisi dan razia tempat pelacuran yang mereka lakukan di waktu tertentu justru menjadi lebih rendah dari pelacuran itu sendiri. Sebab, acap kali para pelacur mesti memberi uang pada para polisi bila tidak ingin ditangkap. Dan Rima, lantaran memikirkan nasib keluarganya, menjadi pelacur yang rutin menyetor uang kepada polisi tiap ada razia. Pada titik ini, Rima tampak lebih mulia daripada polisi.

Rima menjadi simbol dari kelemahan sekaligus nafsu itu sendiri. Ia tak berdaya menghadapi kekerasan struktural akan tetapi ia tetap berupaya hidup melalui pelacuran dan persetubuhan yang sejak dulu sukar ia tinggalkan. Ia menjadi perwakilan mereka yang diperkosa dan dirampas hak-haknya. Dan karena itu, terpaksa menjalani hidup dengan kecacatan status: pelacur.

Melalui kisah Rima, Akasa tidak hanya ingin agar kita memandang pelacur sebagai manusia, melainkan juga memaknai kembali. Sebenarnya pelacuran macam apakah yang paling hina di muka bumi ini? Menjual tubuh atau menjadi orang-orang penegak moral yang juga ikut makan duit dari hasil melacurkan tubuh? Atau lebih dari itu, para penguasa yang menekankan kekuasaan, yang kemudian membuat keadaan pelacur?

Menantang Perspektif Lewat Narasi

Novel ini bisa dikatakan berbeda dari novel-novel pop yang membahas percintaan ilusi msyarakat urban. Di novel ini, kita tidak disuguhi dengan puisi-puisi mengenai senja maupun rembulan. Lebih banyak narasi yang ditulis dengan kalimat-kalimat berisi kepedihan mengenai takdir. Karena itu, buku ini, dibuat Akasa Dwipa untuk menyuarakan mereka yang tertindas atas segala hal dalam hidupnya: gagasan, tubuh, jiwa, dan sosok. Di situlah kelebihan novel ini.

Namun, saya tak memungkiri, bahwa pembahasan mengenai Hak Asasi Manusia dalam novel ini sebenanya rawan, sedikit kontroversial, seraya mudah memancing perdebatan. Sekilas membacanya, saya merasa ada naturalisasi, ada semacam justifikasi dan pembenaran atas eksistensi waria serta pelacur. Tentu kita bisa berdebat seharian untuk ini. Tetapi dalam beberapa hal, topik mengenai HAM apalagi menyangkut  dua status itu, acap kali terbentur oleh agama dan moralitas setempat. Untungnya, buku ini tidak banyak mengekspos hal tersebut. Dalam artian mendebat dalil kitab suci atau etika.

Meski begitu, saya bisa mengatakan buku ini akan menguji kemapanan kita dalam memandang kaum-kaum marjinal, khususnya pelacur dan waria. Karena novel ini berbicara tentang cinta yang membuahkan gagasan humanis, tentang kepedulian tanpa pamrih, harapan-harapan atas kehidupan lebih baik, di tengah kekerasan struktural dan piciknya orang-orang yang mendaku diri sebagai penegak kebajikan.

 

Tulisan ini pernah terbit di majalah Kognisia edisi 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up