Legenda Lengger Lanang Itu Bernama Dariah

Pada tanggal 02 November 2017, saya Bersama seorang sahabat –Rizal Purnawan namanya– melakukan perjalanan menuju Purwokerto untuk menelusuri jejak-jejak budaya Tari Lengger Lanang. Di tengah perjalanan sebelum sampai Purwokerto, kami singgah sejenak di Desa Plana, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas untuk menemui Mbok  Dariah, sang legenda penari lengger lanang.

Memasuki gerbang awal Desa Plana, jalanan terjal penuh bebatuan menghadang kami. Jalanan itu hampir menyurutkan semangat dan keyakinan kami untuk melanjutkan perjalanan. Bahkan kami nyaris tak percaya ada sebuah desa di ujung sana, hingga kami melihat sebuah surau di pinggir jalan, sepi, tampak tak terawat. Kami tak melihat seorang pun lewat. Kami pun memutuskan untuk beristirahat sebentar di surau itu. Tak lama kemudian, kami melihat seorang perempuan paruh baya berjalan ke arah kami. Tak mau menunggu lama, langsung kami hampiri wanita itu, menanyakan alamat seseorang yang kami cari-cari. “Oalah, Mbok Dariah sudah lama meninggal,” jawabnya dengan logat ngapak khas Banyumas. Mendengar ucapan itu, kami saling bertatapan, seakan memberi kode bahwa perjalanan kami ini sia-sia. Kami lantas kembali ke surau, duduk diam di dekat kendaraan roda dua kami.

“Yasudah, kita cari rumahnya dulu aja, soal gimana di sana, pikirkan nanti saja,” celetuk Rizal saya setelah beberapa menit kami bungkam. Tanpa diskusi, kami langsung tancap gas mencari alamat Mbok Dariah itu.  Kami susuri setiap jalan yang ada, sesekali bertanya kepada warga. Setelah jauh memasuki pedesaan itu, akhirnya kami menemukan keramaian. Ada anak-anak berlarian, sebagian menggendong tas. Ternyata, keramaian itu adalah tempat dimana anak-anak mengaji, Masjid. Kami putuskan untuk istirahat dan sembahyang, sembari mencari informasi lebih lanjut mengenai Mbok.

Usai sembahyang, kami bertanya kepada seorang perempuan yang sedang menunggu anaknya mengaji. Ia kemudian member arahan kepada kami untuk sampai ke rumah Mbok Dariah. Kami sedikit tercerahkan, karena tujuan kami semakin dekat. Kami lalu berbincang dengan perempuan itu, kemudian mengklarifikasi lagi apakah Mbok Dariah sudah meninggal. “Weeh, kata siapa? Wong kemarin makan durian bareng sama saya. Masih sehat wal-afiat,” bantahnya kepada saya. Entah siapa yang harus dipercaya, kami tak peduli lagi. Kami lantas pamit, menarik gas kencang-kencang, tak mau kesorean.

 

Pukul 16.00 WIB kami sampai di rumah Mbok Dariah. Rumah paling ujung, berseberangan dengan Sungai Serayu. Terlihat ada dua orang wanita, anak perempuan kecil, dan seorang laki-laki tua. Seorang wanita sedang terduduk di depan rumah, satu lagi sedang berdiri di mulut pintu bersama anak perempuan, sedang lelaki itu tengah mengumpulkan kayu bakar. Kami lantas menyapa dan menyalami satu-satu. Namun, saat kami hendak bersalaman dengan perempuan tua yang terduduk, ia terlihat kesulitan mengangkat tangannya. Kemudian, tangan kirinya membantu untuk mengangkatnya. “Anu, ibu saya habis sembuh dari stroke-nya, Mas,” ujarnya tanggap. “Monggo-monggo, masuk mas. Ada keperluan apa?,” ucapnya kepada kami. Lalu kami menjawab bahwa kedatangan kami kemari untuk menemui seorang lanjutu sia yang bernama Dariah.

Perempuan itu merupakan keluarga dari Mbok Dariah, Nur Kholifah namanya. Ia lalu membangunkan Mbok Dariah yang sedang tertidur. Tak lama kemudian, orang yang kami cari-cari itu muncul dari balik tirai. Dengan langkah satu-satu, Ia menghampiri kami dengan tatapannya yang masih tajam. Dia bertanya kepada kami ada maksud apa jauh-jauh dating ke rumahnya, tentu dengan Bahasa Jawa ngapak yang tak kami mengerti. Untung saja Mbak Nur Kholifah bersedia menjadi translator diantara kami Kami lantas meminta Mbok Dariah menceritakan kisahnya tentang bagaimana dan mengapa Ia bisa menjadi penari Lengger. Tanpa sungkan, Ia bercerita sambil sesekali bernyanyi.

Lengger Lanang di Indonesia

Kata ‘Lengger’ sebenarnya merupakan jarwo dhosok (dua kata atau lebih yang diselaraskan agar membentuk suatu kalimat) dari diarani leng jebulane jengger (dikira perempuan ternyata laki-laki). Profesi Lengger ini dilakoni oleh laki-laki yang berperan sebagai perempuan. Namun, dari semua penari lengger di daerah Banyumas, hanya Dariah yang merubah dirinya menjadi wanita seutuhnya. Dariah juga merupakan penari Lengger tertua saat.

Lengger sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang di Indonesia. Konon, Lengger dulu menjadi sebuah pertunjukan yang disuguhkan untuk para penjajah. Sebab, mengirim perempuan sebagai penari sangatlah berbahaya pada saat itu. Maka dari itu, justru yang dikirim adalah laki-laki yang berdandan menyerupai.

Kisah bermulanya Dariah menjadi seorang Lengger Lanangya itu ketika Ia berusia 15 tahun. Dariah ini dulunya bernama Sadam. Di usianya yang ke-15 itu, Dariah pernah mendapat suatu petunjuk yang Ia anggap sebagai wangsit untuk menjadi Lengger. Kemudian, Ia melakukan perjalanan untuk mencari sebuah jawaban. Ia sempat pergi dari rumah untuk waktu yang lama. Alhasil, sepulangnya dari ritual tersebut, Ia memutuskan untuk merubah dirinya menjadi wanita seutuhnya agar bisa menjadi Lengger sejati.

Menari keliling desa, memenuhi undangan, dan dijadikan pertunjukan budaya Ia jalani bertahun-tahun lamanya. Karena jasanya melestarikan dan menekuni Tari Lengger itu, Dariah kemudian dinobatkan sebagai Maestro Lengger Lanang oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Jero Wacik pada tahun masa pemerintahan Presiden Susilo  Bambang Yudhoyono. Di usianya yang hampir seabad itu (96 tahun), Dariah tak pernah berniat untuk pensiun. Ia masih menerima berbagai undangan pentas seni, baik di acara pernikahan, festival kebudayaan, hingga acara-acara lainnya. Ia masih bersemangat menari hingga saat kami datang di kediamannya. Ia bahkan menunjukkan dan menjelaskan kegunaan properti yang biasa Ia pakai setiap pentas.  Dariah bahkan memperagakan tarian Lengger di depan kami. Tangannya gemulai bagaikan gulali, pinggulnya ringan melenggak-lenggok. Tidak hanya semangat, di usianya yang ke 96 tahun itu Dariah masih memiliki ingatan yang tajam dam kemandirian yang tinggi. Seperti menyimpan dan merapikan beberapa barang kepunyaannya. Meski langkahnya sedikit berat, Ia tak mau dibantu berjalan. Ia masih berusaha untuk tetap mandiri. Segala sesuatu Ia kerjakan sendiri, selagi bisa. Ia tak senang merepotkan orang lain, sekali pun itu keluarganya.

Dariah juga pernah beberapa kali berada di satu pementasan dengan penari masyhur seperti Didi Nini Towok asal Yogyakarta. Bahkan Mas Didik, begitu sapaan akrabnya, memberikan hadiah sanggul kepada Dariah. Tidak hanya Didi Nini Towok yang terheran dangan ketekunan Dariah, namun banyak ilmuan, guru seni dari berbagai Negara pernah mendatangi rumah Dariah. Nur Kholifah bercerita bahwa, dulu pernah ada seorang guru seni tari dari Universitas Hongkong dating untuk bertemu dengan Dariah. Mereka salut dengan orang yang rela menyerahkan jiwa raganya demi seni. Tak hanya itu, banyak mahasiswa dari berbagai universitas menjadikan Dariah sebagai subjek penelitian. Bahkan, ada beberapa diantara mereka yang membuat film documenter berjudul, “The Story of Dariah; A Trasgender Dancer of LenggerLananng.”

Bermacam-macam penghargaan telah Ia raih, dari local hingga nasional. Atas dedikasi dan komitmennya melestarikan Lengger Lanang itu, Dariah meraih penghargaan dari Anugerah Payung Indonesia, Sri Paduka Mangkunagoro, Bupati Banyumas, Purwokerto Bersatu Rongeweutelulas, dan Menteri Jero Wacik.

 

Foto oleh: M. Rizal Purnawan

Teks oleh: Mirza Muchammad Iqbal

* Pernah diterbitkan di Majalah Kognisia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up