Sebuah Makna Tentang Keputusasaan

Segala hal tampak nirmakna. Ketika segala rencana dan strategi yang telah engkau letakkan sedemikian rupa, berakhir sia-sia. Bukan hanya sia-sia tetapi tak satu pun lagi tersisa. Segala pikiran dan tenaga berubah menjadi abu yang terbakar oleh kemarahan, kesedihan, dan kekecewaan yang tak berujung. Sedangkan engkau berada di posisi yang sangat-sangat tak berdaya. Tak bisa melakukan apa pun selain mengutuk keadaan.

“Mengapa?” engkau bertanya namun tidak ada yang menjawab. Hanya terdengar angin malam yang semakin membekukan engkau punya rasa kepada kehidupan. Semakin engkau menganalisis keadaan mencoba menemukan jalan keluar, semakin gelap jalan di hadapanmu. Engkau semakin gelap mata terhadap segala kemungkinan, karena yang tersedia hanyalah satu titik menuju kehancuran. Suatu titik di mana apa yang engkau perjuangkan memang tidak ada artinya sama sekali. Engkau hanya menggenggam mimpi kosong. Engkau hanya berayal. Engkau terlalu nyaman dengan ilusi keadaan baik-baik saja yang engkau buat sendiri. Ketika ilusi tersebut hancur karena kenyataan menampar kau punya pipi keras-keras, engkau terkejut. Engkau terjatuh dari tempat tidur yang kau sebut revolusi itu.

Bau bangkai semakin menyengat dari kau punya mulut. Karena apa yang kau lakukan selama ini tak lebih dari kata-kata. Memang, kau mengabadikan dirimu dengan tulisan. Namun, ketika datang waktunya kau untuk turun dan melakukan aksi, kau hanya berdiam diri. Engkau kebingungan dan ketakutan. Hal tersebut cukup untuk membuatmu limbung dan tak sadarkan diri. Mengentak keras-keras hingga kau hampir berada di ujung maut. Ya, maut. Maut ciptaan kau sendiri karena ketidakbisaanmu menerima keadaan yang tak sejalan dengan pikiranmu.

Fatum Brutum Amor Fati,” kau bilang. Memang takdir datang begitu brutal, namun engkau sama sekali tidak mencintainya. Engkau hanya suka ketika ia datang membawa bunga, rokok, dan alkohol saja. Engkau melupakannya ketika ia mulai berperilaku berbeda. Engkau mengutuknya ketika ia mulai berjalan dengan arah yang berbeda. Engkau ingin membunuhnya ketika ia berada di pihak yang berlawanan. Engkau ingin mengakhirinya, dan kau bilang cinta pada kehidupan?

Karena yang terlihat adalah masa depan yang tidak lagi mempunyai harapan. Suatu masa di mana harapan tak akan dapat tumbuh. Suatu masa di mana harapan tidak akan pernah lagi ada. Suatu masa di mana mempunyai harapan adalah kesia-siaan. Suatu masa di mana harapan adalah omong kosong. Suatu masa di mana harapan tak akan pernah mengisi perutmu karena dahulu dan sekarang pun demikian. Suatu harapan di mana harapan adalah sebuah kesalahan.

Demoralisasi besar-besaran mulai datang dengan diam. Ia mulai menyusup ke dalam hatimu. Ia mulai menipiskan harapan yang selama ini kau genggam. Ia mulai merusak kau punya pikiran. Ia membuatmu tak lagi melihat segala kemungkinan kecuali kehancuran. Ia membuatmu kecanduan dengan bayangan akan segala kejadian yang membangkitkan kekecewaan, kesedihan, dan kemarahan. Ia membuatmu tidak sadarkan diri. Ia membuatmu menginginkan kematian.

Kemudian, kematian bagimu menjadi begitu indah. Ia menjanjikan pembebasan terhadap keadaan yang semakin hari semakin memburuk. Ia menjanjikan kedamaian yang selama ini engkau idam-idamkan. Ia menjanjikan apa yang selama ini engkau bayangkan. Ia menjanjikan apa yang selama ini engkau harapkan. Suatu keadaan di mana engkau akan merasa bebas dari segala hal yang ada di dunia.

Kau sudah lelah untuk berharap. Kau bosan dengan keadaan yang sama saja. Kau bahkan benci dengan semua yang kian hari semakin tidak jelas. Kau tak tahu lagi harus melakukan apa. Kau tak tahu lagi harus menulis apa. Kau tak tahu lagi harus berkata apa. Dalam pikiranmu, yang tersisa adalah tali gantungan atau segala hal yang dapat mempercepat berakhirnya waktu.

Terbayang Godspeed You! Black Emperor dengan The DeadFlag Blues pada movementThe Cowboy yang kini telah menjadi soundtrackhidupmu dalam menjalani kehidupan. Sembari menunggu ajal datang menjemput, engkau menyaksikan kehancuran yang ada di sekitarmu. Engkau kini mulai menikmatinya dan merasakan ketenangan yang tak pernah engkau rasakan sebelumnya. Seakan-akan engkau telah menerima dan siap ketika ledakan nuklir mendekat dan membawamu pergi.

Namun, apakah engkau akan mengambil jalan pintas? Apakah engkau akan diam saja? Apakah engkau ingin berakhir dengan menyedihkan?

 

gambar: Malang.merdeka.com

Please follow and like us:
0

3 Replies to “Sebuah Makna Tentang Keputusasaan”

  1. Tulisan ini menghentak, terutama bagi jiwa-jiwa yang berada di lingkaran tanda tanya. Bukankah kita semua nihil, hadir dari ketiadaan dan berakhir kepada ketiadaan itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up