Para Bajingan yang Membebaskan

Peristiwa Depresi Besar (The Great Depression) yang dimulai Oktober 1929 sampai 1939 merupakan pukulan telak bagi perekonomian Amerika Serikat mengingat satu dasawarsa sebelumnya, ekonomi mereka berkembang begitu pesat. Ekonomi tumbuh pesat, kekayaan negara meningkat lebih dari dua kali lipat. Indeks saham melejit hingga mencapai puncaknya pada Agustus 1929. Namun, pada 24 Oktober 1929 terjadi pelepasan saham-saham secara masif. Sebanyak hampir 13 juta lembar saham berpindah tangan dalam waktu sehari.

Pasar saham Wall Street hancur, dan 40 persen nilai saham hilang. Bahkan setelah runtuhnya pasar saham, politikus dan pemimpin industri terus mengeluarkan prediksi optimis bagi perekonomian Amerika Serikat. Tetapi Depresi semakin dalam, kepercayaan diri masyarakat menguap, dan banyak dari mereka yang kehilangan tabungan seumur hidup. Semua dilanda kepanikan; antara cemas dan takut menyaksikan negerinya bakal berantakan.

Krisis ekonomi mondial yang amat berkepanjangan dan menggoncang kemapanan kapitalisme mulai datang setelah Perang Dunia Pertama berakhir. Benar adanya pendapat Paul Tillich, seorang teolog Kristen berbangsa Jerman. Bahwa, “abad ke-19, berakhir pada tanggal 1 Agustus 1914.” Perang Dunia Pertama adalah awal dari seluruh bencana abad 20.

Jutaan rakyat Amerika menganggur. Antrean untuk mendapatkan roti menjadi pemandangan yang lazim di banyak kota. Ratusan ribu orang mengembara ke penjuru negeri untuk mendapatkan makanan, pekerjaan, dan tempat tinggal. Kebanyakan menuju ke barat ke tanah mitos yang menjanjikan, California.

Hampir seluruh rakyat Amerika harus menghadapi krisis yang lebih berat, bukan sekedar krisis pada sistem ekonomi dunia kapitalis, tetapi krisis mendalam pada kemanusiaan itu sendiri. Perang Dunia Kedua yang menyusul hanyalah menjadi bukti terus berkepanjangannya krisis kemanusiaan di abad 20.

John Steinbeck menangkap energi, kekacauan, dan kekecewaan pada dekade itu dalam cerita-cerita pendek dan novel-novelnya, semisal, Dataran Tortilla. Steinbeck adalah bagian dari pergerakan kecil tapi berpengaruh dari para penulis dan intelektual yang dijuluki “Generasi yang Hilang” yang terguncang oleh pembantaian besar-besaran Perang Dunia Pertama dan tidak puas dengan yang mereka pandang sebagai materialisme dan kekosongan spiritual dalam kehidupan di Amerika Serikat.

Selain Steinbeck dengan Dataran Tortilla-nya, ada pula The Great Gatsby (F. Scott Fitzgerald) dan The Sun Also Rises (Ernest Hemingway). Seluruh buku ini, sampai tingkat tertentu, bernada buram, suram, dan pesimis terhadap perkembangan sejarah waktu itu.

Mereka ingin kembali pada suasana budaya romantik abad ke-19 yang berhasil menyediakan ketentraman dan kemantapan komunal. Bagi mereka, kapitalisme hanya sanggup memproduksi sebuah masyarakat yang tanpa jiwa, masyarakat yang dangkal dan materialistik. Ada suasana putus asa. Di hadapan krisis demi krisis, memaksa mereka untuk menganut semacam cultural pessimism.

Sebagaimana dijelaskan jurnalis William Alen White, kegelisahan setelah perang dan muramnya perekonomian yang demikian menyebabkan rakyat Amerika, “lelah akan masalah, muak dengan idealisme, dan jemu menjadi orang terhormat.”

Dalam hidup yang serba sulit, masyarakat membutuhkan sarana eskapis paling sederhana. Yakni, salah satunya, sastra fiksi.

Pada terbitan 1997, di sebuah pengantar, Thomas Fensch menjelaskan bahwa selama Depresi Besar, siapa yang tak terpesona dengan kisah Danny dan kelompok persaudaraannya, para paisano yang tinggal di atas Monterey tersebut?

“Membaca dan melihat film-film adalah sarana melarikan diri paling ampuh. Melarikan diri dari kemiskinan, melarikan diri dari rasa khawatir cara membayar sewa rumah, melarikan diri dari kecemasan bagaimana menemukan pekerjaan, bahkan melarikan diri dari kekhawatiran tentang dari mana uang untuk belanjaan minggu depan bisa datang” (viii).

*

Dataran Tortilla, yang diterbitkan pada tahun 1935, memberikan John Steinbeck kesuksesan komersial pertamanya sebagai seorang novelis. Diterbitkan selama Depresi Besar, di waktu rasa pesimis sedang menjangkiti masyarakat Amerika, Dataran Tortilla memikat khalayak ramai.

Novel tersebut menggambarkan kehidupan kaum paisano; rakyat jelata yang berdarah campuran Spanyol, Indian, Meksiko, Kaukasia, dan berbagai ras kulit putih Eropa. Berlatar di ketinggian Kota Monterey, California, tepatnya di sebuah daerah fiksi bernama Dataran Tortilla—walaupun sebenarnya daerah itu sama sekali tidak datar.

Cerita ini bermula ketika Danny kembali dari Perang Dunia Pertama. Danny menemukan bahwasanya dia telah mewarisi dua rumah. Padahal, sebelum ikut perang, Danny dikenal sebagai gelandangan yang terkadang mencuri demi kebutuhan hidupnya dan beberapa kali keluar masuk penjara. Derajat sosialnya pun tiba-tiba berubah menjadi orang terpandang. Pada masa itu, di Dataran Tortilla banyak sekali rakyat jelata yang miskin, compang-camping, tidur seadanya: terkadang di dalam selokan beratapkan bintang-bintang.

Namun, sebelum memeriksa propertinya, Danny membeli satu galon anggur murah, mabuk-mabukan di Kota Monterey, dan menghabiskan tiga puluh hari di penjara Monterey. Secara eksplisit, Steinbeck mengisahkan bahwa selama masa Depresi, bagi sebagian orang, tiga puluh hari berada di sebuah penjara kota berarti memiliki “tiga kotak” (makanan) sehari dan tempat yang hangat untuk tidur.

Dalam pelariannya dari penjara, Danny bertemu kawan lamanya bernama Pilon. Karena Pilon juga gelandangan, dia menyewakan satu rumah kepadanya. Pilon kemudian menyewa bersama Pablo. Namun, karena kecerobohan mereka, akhirnya rumah yang disewanya tersebut hangus terbakar. Meskipun dongkol, Danny memaafkannya dan sekaligus mengizinkan mereka tinggal di rumah utamanya dengan mengajak serta teman lainnya, yakni Jesus Maria, si Bajak Laut dan kelima anjingnya, serta Big Joe Portugis. Dimulailah kisah sekelompok petualang yang hidup tanpa tujuan: hanya bersenang-senang, tanpa pertimbangan baik-buruk. “Perjuangan untuk hidup jauh dari pikiran mereka,” seperti dikatakan narator.

Kehidupan di Dataran Tortilla mungkin barbar, tetapi menyenangkan: mereka tidak pernah menderita banyak dari kemiskinannya atau menginginkan banyak hal. Bagi para pembaca ketika itu, Monterey di Dataran Tortilla sangatlah idilis; uang jarang dibutuhkan ketika barang dapat diperdagangkan untuk anggur. Para paisano ini hanya menginginkan makanan yang cukup, tempat yang hangat untuk tidur, anggur, dan—terkadang—perempuan dan pesta. Seperti ungkap Pilon, “Kebahagiaan lebih baik daripada kekayaan.”

Danny dan sahabat-sahabatnya hidup dengan aturan mereka sendiri: mereka tidak ada hubungannya dengan budaya Monterey “sebagai pusat kota” yang adiluhung. Rumah, yang pada awalnya meninggikan derajat sosial penghuninya, seperti yang Danny temukan setelahnya, adalah suatu ketidaknyamanan. Karena properti berarti tanggung jawab. Ketika uang sewa merupakan masalah nyata selama masa Depresi, para pembaca merasa terhibur bahwa Danny menyewakan rumah keduanya kepada para sahabatnya, dan tidak ada satupun pihak yang mengharapkan bahwa uang sewa itu dapat, atau akan, dibayar.

Dengan jalinan kisah petualangan dan kemalangan, humor satir menyindir dan kebijaksanaan, kriminal dan barbar, dan sosok-sosok yang tampil merupakan anggota masyarakat kelas bawah, kisah Dataran Tortilla cenderung relevan dengan kehidupan masyarakat Amerika dan bahkan warga dunia saat itu.

*

Sebab bergenre picaresque, karakter yang dibangun cenderung di luar norma sosial atau kesepakatan umum. Danny dan sahabat-sahabatnya mungkin adalah pencuri sekaligus bajingan. Namun seperti kisah picaresque lainnya, mereka juga digambarkan memiliki hati yang bersih di sisi lainnya.

Novel ini memperlihatkan salah satu aspek paling penting dalam tradisi picaresque, bahwa ia juga bisa berfungsi sebagai kritik sosial, dengan gaya yang cenderung satir menyindir. Membaca novel ini mengingatkan kita bahwa, seperti ditulis Eka Kurniawan dalam jurnalnya, rasa lapar (baca: kemiskinan) tak melulu disebabkan bahwa perut seseorang tak terisi dengan baik, tapi lebih sering terjadi karena seseorang yang lain begitu rakus dan korup.

 “Contohnya, seorang penjual anggur toh tak peduli dari mana kau dapat uang untuk membayar anggurnya. Begitu juga bagi Tuhan, Ia tak peduli dari mana uang untuk misa itu datang. Tuhan suka pada misa, seperti kau menyukai anggur. …” (hlm. 40)

Di dunia di mana tuan, para pendeta, para pedagang adalah pencuri besar dan bajingan yang sesungguhnya, maka menjadi pencuri sekaligus bajingan yang hanya ingin meminum anggur sembari menikmati cahaya sore berlalu selambat tumbuhnya rambut layaknya Danny, Pilon, Pablo, Jesus Maria, si Bajak Laut dan kelima anjingnya, serta Big Joe Portugis lakukan, seperti keniscayaan alamiah. Itu bukan aib.

Dataran Tortilla bukanlah buku baru. Ia terbit lebih dari setengah abad yang lalu. Lantas diterjemahkan Djokolelono dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Pustaka Jaya pertama kali pada 1977. Kemudian Kepustakaan Populer Gramedia menerbitkan ulang dalam Seri Sastra Dunia.

Namun begitu, bukan berarti buku ini tidak aktual. Ia tetap relevan ketika kita berbicara tentang situasi eksistensial yang buram—tapi boleh jadi bermakna. Ketika dunia tampak membosankan dan serasa kehilangan gairah dalam menatap masa depan. Ketika orang-orang lari pada kesempitan dunia privatnya, mengejar apa yang masih bermakna untuk dirinya sendiri, tanpa peduli apa yang terjadi di luar sana.

Atau, setidaknya, novel ini dapat dijadikan sarana eskapis dari pikiran yang telah suram. Kala pekerjaan terus-menerus tiada henti; media massa yang hanya berisi Jakarta dengan segala kerusuhannya, atau linimasa yang berisi para bigot yang masih mempermasalahkan mana-yang-pribumi-mana-yang-asli; ganasnya negara mengambil-paksa ruang hidup rakyatnya; hingga kita pun seakan-akan dibuat putus asa dengan merebaknya korupsi-kolusi-nepotisme, entah siapapun yang sedang berkuasa di tahta kepresidenan.

Maka itulah, adanya novel ini, dengan makin berjaraknya masa lalu dan telah berubahnya keadaan: ketika gubuk-gubuk dan pondokan para paisano sekarang telah hilang. Dibuldoser untuk rumah-rumah permanen, pusat-pusat perbelanjaan, dan jalan-jalan. Melalui mata Steinbeck, kita masih melihat mereka, berbicara dan tertawa di bawah kehangatan cahaya keperakkan mentari, di masa-masa indah Depresi Besar, ketika persahabatan dan anggur lebih berarti daripada uang.[]

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up