Menyadari Kesalahan-Kesalahan dalam Berpikir Kita

Berpikir kritis diawali dari menyadari bahwa kita juga bisa salah. Bertindak kritis juga dimulai dari memberikan sebuah pertanyaan. Seringkali manusia menganggap kebenaran yang kita yakini saat ini adalah mutlak, tanpa mempertanyakan kemungkinan lain dan kesalahan dari cara berpikir kita sendiri. Baik, dalam beberapa hal kita bisa saja memang benar atau salah, tapi tidak seutuhnya. Di balik kebenaran tentu ada kesalahan, begitu juga sebaliknya. Layaknya Yin dan Yang, dalam bagian putih ada setitik hitam dan pada bagian hitam ada setitik putih. Jadi, bagi kita yang ingin berpikir kritis, mari menyadari bahwa kita juga bisa salah.

Umumnya, cara seseorang berpikir dipegaruhi oleh intuisi, pengalaman, dan pengetahuannya. Intuisi adalah reflek alam bawah sadar yang dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuannya. Pengalaman adalah sesuatu yang didapatkan dari kejadian yang ia alami secara langsung. Pengetahuan adalah sebuah upaya yang ditempuh seseorang untuk memahami seusatu, bisa dari membaca buku, sekolah, dan sebagainya.

Ketiga faktor tersebut mempengaruhi cara dia bersikap dan merespon sesuatu, hingga termanifestasi dalam perilaku. Apabila seseorang memiliki pengalaman terhadap suatu kejadian, maka dia akan lebih mudah menuturkan apa yang dia rasakan saat itu. Begitu juga orang yang punya kapabilitas pengetahuan terhadap suatu kejadian, ia mampu menjelaskan dinamika kejadian tersebut. Kemudian intuisi, seperti sebuah sistem otomatis yang akan aktif jika berkaitan dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya.

Ketiga aspek tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal, contohnya interaksi sosial, identitas sosial, norma agama atau kelompok, dan emosinya. Interaksi sosial akan menambah informasi seseorang dalam berbagai hal. Dengan siapa dia berinteraksi, tentu dapat berpengaruh bagi cara pandang seseorang. Identitas sosial dalam beberapa penelitian banyak membuktikan bahwa ini salah satu faktor terbesar pembentuk intuisi, pengetahuan, dan pengalaman seseorang. Dengan kelompok mana Ia bergabung, tentu berkaitan dengan aktivitas yang ia lakukan serta rasa kepemilikan akan kelompok yang tinggi.

Identitas sosial ini bisa berbagai macam bentuknya, termasuk agama. Seseorang akan merasa terkait dengan orang lain (yang bahkan tidak ia kenal) yang memiliki kesamaan nilai, agama, dan bangsa. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Benedict Anderson (2001), bapak Nasionalisme dan Internasionalisme, bahwa bangsa adalah suatu komunitas terbayang karena anggotanya yang terkecil sekalipun tidak bakal tahu dan tidak kenal sebagian besar yang lain, tidak bertatap muka, tidak pula mendengar tentang mereka. Namun, mereka memiliki spirit identitas kebangsaan yang sama dan bergemuruh dalam hati yang dikonstruk sejak lama. Itulah sebabnya banyak orang berani mati untuk berperang membela Negara. Hal ini juga yang sering mendorong suatu kelompok melakukan kekerasan atas nama nilai-nilai yang mereka anut, walaupun tidak semua orang di kelompok ini merasa diwakili.

Selain itu, emosi juga menjadi faktor penting dalam perilaku maupun pikiran. Emosi merupakan sebuah impresi dari apa yang mereka lihat dan rasakan, yang akan banyak mempengaruhi perilaku. Contohnya saja propaganda di dalam Film Fiksi Penghianatan G30/S PKI yang sangat mempermainkan emosi penonton.

Di dalam film itu digambarkan bahwa PKI adalah sosok kejam dan menyeramkan, yang menyiksa para jenderal tanpa belas kasihan. Siapa yang tidak  merinding melihat adegan tersebut? Apalagi pada waktu itu anak-anak juga dipertontonkan. Padahal, kenyataan bahwa kematian para jenderal tersebut hanya dengan selongsong pelor tidak bisa ditampik. Artinya, pihak yang melakukan propaganda punya maksud untuk merogoh emosi penonton agar tercipta kemarahan, sehingga tega mengibliskan kelompok lain, dan membuat dinding yang tinggi antara ingroup dan outgroup (Herlambang, 2013).

Baik, dari semua penjelasan di atas, terdapat beberapa kesalahan yang biasa kita alami secara tidak sadar. Kesalahan dalam berpikir tersebut dipengaruhi oleh factor-faktor yang telah disebutkan dan disebut dengan bias. Macam-macam bias sebenarnya ada banyak, namun keenam bias di bawah ini adalah yang paling relevan untuk menggambarkan kondisi masyarakat saat ini.

  1. Confirmation bias

Kecenderungan seseorang untuk mencari bukti-bukti yang sesuai dengan pendapat pribadinya tanpa mencari bukti-bukti yang menegasikannya atau berlawanan. Kesalahan berpikir semacam ini seringkali terjadi pada kita. Contohnya, apabila kita menyukai salah satu calon presiden, maka kita akan mencari kebaikan-kebaikan yang ada dalam diri dia saja, tidak mencari keburukan-keburukan yang juga ia miliki. Intinya, fokus mencari informasi berdasarkan apa yang ia yakini dan menolak informasi yang bertentangan.

  1. In-group bias

Tendensi seseorang untuk menganggap kelompoknya adalah yang terbaik/ benar/ mutlak, sehingga tercipta persepsi bahwa kelompok lain salah. Bias-bias kelompok ini bisa berwujud apapun, dari mulai kelompok agama hingga kelompok terkecil sekalipun, misalnya organisasi mahasiswa. Suatu kelompok akan sulit dileburkan jika keduanya memiliki in-group bias yang tinggi, sebab pengaruh ini sudah ditularkan dari interaksi sosialnya dengan teman satu kelompol. Minimnya pengetahuan objektif terhadap kelompok lain (out-group) dan indoktrinasi kelompok (in-group) sangat meningkatkan kesalahan ini. Sulit menyangkal bahwa di Indonesia, in-group bias ini sudah marak sejak pemilu 2014 dan memuncak di Pilkada Jakarta 2016 lalu.

  1. Neglecting Probability Bias

Neglecting probability bias ketidakmampuan kita dalam memahami dengan tepat akan bahaya dan resiko-resiko yang ada. Misalnya, kita lebih takut naik pesawat ketimbang motor atau mobil. Padahal secara statistik, peluang terjadi kecelakaan saat mengendarai motor atau mobil secara signifikan lebih besar daripada pesawat. Akan tetapi, otak kita tidak bisa menerima itu karena terbang adalah sasutau yang tidak wajar, berada di ketinggian 35.000 kaki, was-was. Begitu halnya dengan ketakutakn kita akan resiko terbunuh karena terorisme ketimbang karena penyakit kronis yang disebabkan oleh pola makan. Kita melihat bahwa terorisme adalah tindakan yang sangat mengerikan tapi tidak melihat perilaku sederhana yang tidak kalah mematikan.

  1. Status quo Bias

Bias ini biasanya digunakan dalam istilah sosial-ekonimi-politik. Bias status-quo adalah anggapan bahwa menjalankan sesuatu seperti saat ini lebih menguntungkan ketimbang mencoba perubahan-perubahan. Contohnya, kita menganggap bahwa calon presiden atau gubernur yang incumbent lebih superior dan memiliki banyak keuntungan ketimbang kubu oposisi atau penantangnya.

  1. Negativity bias

Kecenderungan kita untuk lebih terfokus pada informassi atau pengalaman yang negatif ketimbang yang positif. Ketika kita mengalami pengalaman yang baik dan buruk dalam satu hari sekaligus kita akan cenderung bercerita tentang musibah yang kita alami. Misalnya pada satu hari kita mendapatkan haidah special dari pasangan yang kita kasihi, namun saat perjalanan pulang kiat kecopetan. Maka, kita akan cenderung focus dan bersedih pada barang yang diambil oleh si pencuri, kita mengabaikan bahwa di hari itu pasangan kita juga memberikan hadiah spesialnya.

Pertanyaannya, bagaimanakah kita harus bersikap dan merespon sesuatu? Jawabannya adalah, “jangan buru-buru menyimpulkan”. Sadari segala kelemahan yang bisa saja menjadikan interpretasi kita salah. Sadari kalau kita juga bisa melakukan kesalahan. Dengan begitu, kita akan senantiasa berpkir kritis dan tidak menghakimi, tapi memahami.

 

 

 

Dafttar Pustaka
Cameron, J., E. (2004). A three-factor model of social identity. Psychology Press, 3, 239-262.
Anderson, Benedict. (2001). Imagined Communities: Komunitas-Komunitas Terbayang. Yogyakarta: INSIST Pustaka Pelajar.
Ajzen, I. (1991). The theory of planed behavior. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 50, 179-211.
Herlambang, Wijaya, (2013), Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti Komunisme Melalui Sastra dan Film. Tangerang Selatan: Marjin Kiri.

 

Sumber gambar: CNN.com

Tulisan ini pernah diterbitkan di Pijarpsikologi.org

Please follow and like us:
0

Bukan paranormal, serius dah….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up