Menantang Maut Setiap Hari

Apa yang membuat pemalas terburuk sekalipun mau berkarya?

Dostoevsky, penulis terkenal itu pernah sangat kehilangan arah dalam hidupnya sampai-sampai bergabung dengan kelompok sosialis radikal di Rusia. Pada 1849, dia ditangkap bersama rekan-rekan diskusinya, dan setelah dipenjara 8 bulan, dipanggil untuk dihukum mati. Pada detik terakhir sebelum Dostoevsky dan kawan-kawan menerima takdir, seorang utusan datang dengan dramatis untuk mengumumkan agar para narapidana dapat tetap hidup dengan catatan adanya perubahan hukuman. Peristiwa ini (yang sebenarnya sudah direkayasa Czar Nikolas untuk ‘mengerjai’ antek radikal sampai kapok) membawa perubahan besar pada Dostoevsky. Tidak lagi kehilangan tujuan hidup, dia menghasilkan novel-novel terbaiknya sampai hidupnya berakhir.

Sebelum menjadi penemu terkenal, Buckminster Fuller pernah mencoba bunuh diri agar keluarganya mendapatkan uang asuransi untuk hidup. Goethe, sebelum menulis novel larisnya The Sorrows of Young Werther, hampir meninggal karena kesehatannya menurun setelah lamarannya kepada seorang gadis ditolak. Tidak hanya karya kreatif, kemenangan besar pun muncul setelah bertatapan dengan kematian. Hernan Cortes, Tariq bin Ziyad, Napoleon, dan jenderal-jenderal besar yang membakar kapal demi berhadapan dengan musuh yang jauh lebih besar jumlah dan sumber dayanya, berhasil karena satu hal yang membedakan : mereka lebih dekat dengan kematian.

Terkadang, saat organisasi mulai besar, atau karir mulai menanjak, atau kekuasaan memuncak, muncul rasa aman yang pada akhirnya membuat kita merasa kehilangan arah. Apa yang akan kita lakukan setelah ini? Kebebasan hanya jadi beban. Semangat juang hanya menjadi kata yang didoktrinkan tanpa pernah dirasa. Akan tetapi, saat status quo organisasi mulai digoyang lawan politik atau separatis, maupun saat tangga karir mulai dibakar oleh bawahan yang lebih ambisius, insting hidup kita bergerak kembali. Kecerdasan yang selama ini dirasa tidak pernah kita miliki, muncul dan memperbaiki keadaan dengan akurasi tingkat tinggi.

Hal inilah yang disebut Robert Greene sebagai fenomena death ground : saat keadaan dan lingkungan memaksa kita untuk bertindak atau hancur; daripada menghadapi takdir dan terlupakan, kita mendadak dibanjiri energi besar, fokus pikiran setajam laser, serta keberanian yang tidak bisa dibangkitkan orator perang sehebat apapun. Persis seperti penerjun payung yang parasut utamanya tidak terbuka : waktu serasa melambat, pikiran bercabang secepat kilat mencari solusi keselamatan.

Lupakan trik-trik kreativitas kacang goreng; untuk berinovasi kita butuh mata yang awas dan pikiran yang hadir untuk mencari apa yang belum ada di lingkungan kita, dan itu dapat muncul dengan menempatkan diri di dalam death ground. Tidak perlu bergerak seekstrim mempertaruhkan jiwa (kecuali kau sebegitu malasnya sampai-sampai hanya kematian yang bisa membuatmu bangkit dari depan TV). Lemparkan diri ke situasi yang tidak familiar, atau pertaruhkan seluruh sumber daya pada satu kesempatan, dan kita mendapatkan situasi yang setara dengan Cortes saat menghadapi Aztec. Akan lebih sulit jika seluruh tataran organisasi yang ditempatkan dalam situasi ini, tetapi disinilah kepemimpinan diuji. Dan hasilnya? Akan sepadan. Perubahan akan muncul di tempat-tempat yang dibutuhkan, jauh lebih baik daripada saat keadaan aman-aman saja.

Satu catatan untuk orang yang berada dalam suasana kompetitif : kita bukan satu-satunya yang mempertaruhkan segalanya. Prajurit yang merasa sudah kehilangan segalanya akan bertarung lebih ganas daripada iblis. Pastikan iblis itu bukan musuh anda. Cara terbaik adalah menghilangkan urgensi dari tujuan mereka. Meminjam istilah Greene, buat saingan anda berpikir dia memiliki seluruh waktu yang ada di dunia, dan kita bisa melampaui mereka saat tertidur. Buat mereka merasa aman, dan bambu runcing mereka tak akan bisa mengalahkan senapan (karena tidak pernah dihunuskan!).

Kata Nietzsche, jarang sekali kita mematahkan kaki sendiri saat dalam bahaya—justru seringnya itu terjadi saat kita berjalan di jalur yang aman dan pikiran yang santai-santai saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up