Memoar Kakek di Belakang Rumah

\1\

Kabut yang merayapi tebing-tebing tinggi sepagi ayam berkokok telah sirna. Tapi Pak Naya, salah satu warga desa K, masih berselimut resah sampai ke leher saat melihat orang-orang sekitaran rumahnya susul-menyusul ke ladang—memacak benih padi ke tanah, berbaris, lalu berjalan mundur-mundur. Itu karena Waluyo, anak semata wayangnya yang baru mentas dari pendidikan tinggi di bekas ibu kota, hanya mendekam di rumah tak ke mana-mana. Meski gempa mengoyak samudera dan lahar dingin membelah rumah-rumah, pikir Pak Naya, Waluyo akan tetap meringkuk di kamar, mendekap buku-buku miliknya. Mungkin ini berlebihan, tapi tidak untuk kadaan Waluyo saat itu.

Sebelum pagi itu Pak Naya mengira Waluyo sakit, namun kemudian ia sangsi gara-gara anaknya rajin menonton Gunung Putri dari jendela kamarnya, bahkan disela-sela ia sedang membaca buku—masyuk sekali. Sebagaimana seorang ayah, terlintaslah kecurigaan lain, jangan-jangan Waluyo merindukan gemerlap kota beserta riuh-rendah kedai kopi atau apalah lainnya saat bersama teman-temannya atau entahlah siapa, sehingga kegelisahan dalam dadanya dua kali lebih tebal dari biasanya.

Pak Naya pun beringsut dari kursi ruang tamu—disitulah ia baca koran pagi dekat jendela yang menghadap ke jalan raya dengan segelas kopi manis dan ketela di atas meja—ia teringat Waluyo yang hampir sepekan tak keluar rumah. Aku punya tawaran menarik pagi ini, nak, bagaimana kalau kita ke Bukit Putri, begitulah benak Pak Naya sewaktu berjalan menuju kamar Waluyo. Jarak kamar dari singgasananya itu tak jauh, artinya tak sempat menggerakkan bayangan kopi yang terkena tempias matahari timur pagi itu. Apa lagi sampai membuatnya lupa dengan gagasan kecilnya. Dan sampailah ia di pintu kamar dengan dahi yang meringsing seketika lantaran melihat kamar Waluyo melompong, ia bertanya-tanya, apakah Waluyo pergi tanpa pamit, jangan-jangan ia sudah di bukit, ya, mungkin ia tak enak hati kalau berpamitan di waktu ayahnya sedang terpaku dalam rutinitas pagi.

Namun bagi Pak Naya urusan tak sempat pamit atau sekedar berkata, “Aku pergi sebentar ya, pak” atau lebih singkat “Pak, aku pergi” itu adalah urusan yang jelas-jelas menumbuhkan rasa khawatir dalam batin seorang Ayah. Dulu Pak Naya pernah menghardik Waluyo ketika terus-terusan membantah saat memberi keterangan bahwa ia hanya main ke rumah teman sepulang sekolah, lalu ketiduran saat membaca komik kisah para nabi. Masalahnya ia tak sempat pamit dan salin baju terlebih dahulu. Pak Naya semakin murka ketika petang itu Waluyo coba mengutarakan satu hal padanya—bahwa Ayah seperti Nabi Yaqub, bagaimana pun alasan saudara Yusuf atau sepekat apapun merah darah di bekas baju Yusuf yang ditunjukkan pada Yaqub, Yusuf mesti kembali, hidup atau mati.

Sekelumit ingatan itu membuat Pak Naya tak kuasa marah-marah karena umurnya sedang bertambah, dan waktu bukanlah seorang guru yang buruk untuk mengajarkan sesuatu—misalnya kesabaran. Jadi, alih-alih kesal karena anaknya pergi tanpa pamit, Pak Naya justru tersenyum lalu terangguk-angguk di pintu kamar Waluyo bagai Ibrahim yang bersedia menyembelih Ismail. Satu hal yang tak terbayangkan oleh Pak Naya sebelumnya. Ia melepas kaca mata tebal minus dua yang dikenakan, menyeka air mata yang hendak meleleh dari kantung matanya lantaran mafhum dengan kepergian Waluyo, anak semata wayangnya itu.

Selang beberapa waktu yang senyap di bibir pintu kamar Waluyo, Pak Naya yang masih berdiri segera mengais koran yang jatuh di samping kakinya dan kemudian bertolak ke kamarnya, menuju laci-laci di ujung kamar dan mencari sesuatu yang bisa menyingkap kenangan masa lampau, mungkin lewat mozaik-mozaik ingatan dalam foto, atau secarik kertas tulisan mendiang istrinya, dan tanpa banyak mengindahkan waktu, ia pun terkenang dengan buku Hikayat Desa Lumbung Tulus—Sepilihan Memoar Kakek. Ia mencari di atas lemari, tangannya terus meresek-resek dari kanan ke kiri, terus berusaha dan menjinjitkan kakinya, dan ketika tangan sudah menggapai buku, spontan ia mengusap semua debu dengan kain sarung yang dikenakannya, lalu keluar kamar tepat saat judul buku terbaca, menjemput kopi dan ketela. Tak terasa matahari sudah menggeser bayangan benda-benda di atas meja.

Pak Naya yang tengah duduk sempat melirik kamar Waluyo sembari membuka halaman pertama, dan ia memutuskan untuk membaca keras-keras buku Sepilihan Memoar Kakek, berharap dapat menebas kesunyian pagi itu. Sejak dimulainya membaca buku, asbak yang tadinya kosong mulai terisi, lisong demi lisong terkulai di dalamnya, asap rokok mengapung di udara menjadi pengganti kabut yang lenyap pagi tadi.

\2\

“Untuk dirimu yang mengalami keresahan hati, ketahuilah, semua resah itu bermula dari seberapa kau punya waktu berdiam diri. Celakanya, dirimu selalu punya waktu dalam dua puluh empat jam untuk sekedar menyendiri. Mampus kau di koyak-koyak…(lanjutkan sendiri)...”

Kalimat pengantar selalu aneh, pikir Pak Naya, bahkan terkadang tidak berfungsi apa-apa. Ia tahu kalimat terakhir sebelum titik itu hanya sepenggal kalimat dari kalimat yang ada di buku Waluyo atau di punggung truck milik Pak Gito yang beberapa pekan lalu menang kontes modifikasi truk di kota dengan tema quote pujangga-pujangga tahun ’45, dan Pak Naya coba tak menghiraukan ingatan itu bersamaan dengan terbukanya pagina selanjutnya.

“Sekitar tahun-tahun setelah kabar kiamat dipastikan dusta, aku lupa tepatnya, ada wabah yang melanda umat manusia. Warta-warta menyebar secepat penularan virusnya. Dan barang tentu, ini menjadi kisah paling laris bagi awak media, seiring kematian terus meningkat. Mula-mulanya yang terpapar virus itu akan batuk kering dan demam, sesak nafas atau flu, dan semakin virus itu menguasai bagian terdalam diri seseorang di hari-hari berikutnya, virus itu bisa memutus kerja-kerja jantung. Tampak sepele ketika informasi itu bergentayangan dari satu orang ke orang yang lain, apa lagi jumlah penduduk bumi tak sebanding dengan banyaknya angka kematian atas virus tersebut. Tapi satu nyawa pada masa itu lebih berharga dari ratusan misteri kematian para pembela hak asasi atau kroco-kroco mahasiswa subversif yang hilang ketika menuntut reformasi. Dan keadaan selalu berubah dengan kata kunci kekhawatiran.”

“Tak terkecuali juga terjadi di Lumbung Tulus, kalau tidak salah ketika Sapto pulang, dan banyak orang tak sanggup curiga jika Sapto membawa virus mematikan itu di tubuhnya, belum lagi pembatasan informasi dari luar desa merupakan satu misi supaya masyarakat segera menyongsong tanah keharmonisan. Tanpa informasi kita tak banyak pikir-pikir jauh lagi, masyarakat yang mengenal Sapto pun menepuk-nepuk bahunya, bahkan seorang kakek-kakek memeluknya erat-erat, dan kemudian berbisik bahwa tanah yang ia pijak adalah tepat di bagian tubuh Sapto disemayamkan, ya, tali pusar, dan sang kakek pun berkata lagi dengan sedikit nyaring, lihat itu nak, teman-temanmu sangat bangga padamu”

Pak Naya berhenti sejenak, membalik halaman-halaman berikutnya, ia merasa cerita ini bermula dengan suatu perkara yang kurang meyakinkan, paling tidak paragraf keduanya seperti loncat, dan kisah-kisah seperti itu buruk menurut yang ia ketahui dari kelas menulis. Setidaknya panca indera dapat bekerja di setiap paragraf cerita, ‘kan?  Ah, tidak-tidak, aku harus membaca tuntas cerita ini, toh menebas sunyi tak selamanya butuh alat yang tajam belaka, jawab Pak Naya pada  pertanyaan sebelumnya.

“Di hari berikutnya, orang-orang mulai tak berani keluar rumah, sepakat mengisolasi diri, terutama Sapto diungsikan di rumah kosong ujung desa, sisa sebuah kapel Belanda, dan tepat hari ketigabelas, ada kabar solusi yang cukup aneh kudengar, seseorang membakar rumah-rumah—semua pun menghitam seketika, menyisakan puing-puing yang tumpang-tindih bersama kenangan-kenangan warga—begitulah akhir berita terbaca olehku.”

“Ya, akulah satu-satunya orang yang boleh mendapat info dari luar, berita apapun bentuknya harus melaluiku. Dan naasnya, saat kebijakan pembakaran tempat tinggal itu aku baca, aku tertawa-tawa sendiri, apalagi kebijakan itu berasal dari usulan seorang penyair koran yang hadir di akhir pertemuan desa, saat ia berkata begini, Api bekerja menghambat wabah virus atau jenis lainnya untuk menyebar lebih jauh, dan api bisa memusnahkan segalanya seperti bapak-bapak ketahui sendiri. Kau bisa bayangkan ada satu kebijakan muncul dari sebuah puisi?”

“Benar, Pak Kades! orang-orang saling sembur dan teriak. Segelintir yang lain memikirkan evakuasi secara diam-diam di pojokan forum. Aku semakin tak mengerti berita ini fakta atau fiksi, tapi foto yang kulihat begitu nyata dan menyala jingga.”

“Secepat mungkin, Pak! ‘wabah ini harus segera diatasi, urusan saya menikah dengan Sinta itu nanti!’ tukas anak Pak Kades di samping warga yang melingkar di beranda balai desa. “Kita sebaiknya membakar semua area, Pak.”

“Namun Pak Kades pun mengimbau masyarakat agar tidak panik, hadapi segala hal dengan kepala dingin, agar lebih tenang perbanyaklah doa. Imbauan sugestif itu pak, apa susahnya kita membakar yang tercipta fana!? Pekik Penyair Koran saat mundur dari forum.”

“Tak jauh dari balai pertemuan, tepatnya di dapur belakang balai desa, Zuma sang istri muda Pak Kades menepis khawatir dengan terus bercanda sambil mengiris loncang, memotong kentang dan wortel, dan tak lupa memojokkan Sinta.”

“Lihat dirimu Sinta, Zuma berseloroh, dirimu akan dicari banyak orang, ijasahmu paling tinggi di kampung, minimal kamu satu-satunya dukun anak atau ahli pijat yang dapat pengakuan dari fakultas kodekteran! Sinta tak menggubris, Zuma dan ibu-ibu yang lain tertawa tak habis-habis.”

“Mbak Zuma, nasib adalah seutas tali ari-ari yang kau larung di lautan luas, penggalan resah dalam benak Sinta itu tersimpan rapat dalam hatinya, nasibmu di antara deru ombak dan ikan-ikan yang akan menelannya”

\3\

Matahari sepenggalah, Pak Naya sudah berada di antara keinginan dan kenyataan, di antara percaya dan nelangsa, bahwa Waluyo berhak pergi dan menjadi orang yang persis dengan apa yang dibayangkannya. Pak Naya berdiri dari kursi, berjalan menuju belakang rumah, tak lupa menggendong memoar buruk rupa itu, “sebaiknya buku ini aku bakar!” desisnya.

Sesampainya di halaman belakang rumah, di dekat jemuran dan sumur, api menyala lambat, namun lagi-lagi  Pak Naya terpelanting pada percekcokan dengan Waluyo seminggu lalu.

“Aku ingin menjadi penulis seperti bapak,”

“Lebih baik kau seperti umumnya orang desa K, anakku.”

“Dari kecil aku lebih dekat dengan apa-apa yang bapak kerjakan, berbasahan di sawah pun Waluyo tak pernah.”

“Kau tahu persis bahwa menjadi penulis tidak mudah bapak lewati selama ini, namun intinya, pekerjaan ini selalu membuat jarak antara rumah kita dengan warga sekitar semakin jauh. Mau sampai kapan terus begitu, jika kau juga sama seperti bapak?”

Waluyo terdiam, ia sudah tak sanggup menyamakan kisah-kisah para nabi seperti saat kecil dulu, itu karena kisah yang ia baca saat kuliah bukan lagi nabi-nabi, bukan lagi para klerus suci yang baik belaka, dan semua manusia berkelindan antara baik dan buruk. Akhirnya Pak Naya menyahut lagi,

“Begini, Waluyo,” ucapnya pelan-pelan, “Bapak suka kamu ingin menjadi penulis, namun bapak lebih suka kau menjadi petani seperti pada umumnya orang di kampung sini.”

Pak Naya kembali melihat dengan jelas jilatan api yang tengah membakar buku Memoar kakek, ia juga sudah duduk di dipan terdekat, dan entah bagaimana cara kerjanya, sepenggal ingatan percekcokan yang terekam di kepalanya tadi telah membuatnya lelah, dan tanpa sadar angin pukul sepuluh yang semilir mendukungnya untuk tergeletak dan menjemput mimpi. Alih-alih bertemu anak semata wayangnya, justru kabar berita tentang waria yang dibakar massa mengunjunginya, pria itu bersih dan utuh, banyak senyum, dan tak lupa berpesan pada Pak Naya begini, “Waluyo punya keinginan, Pak, sebaiknya bimbing dia untuk sedikit lebih dekat dan meraih keinginan itu!”

 

Ilustrasi: Alam Saef

Please follow and like us:
0

Sedang studi di MPI-UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus bergiat sebagai pekerja seni di Teater ESKA. Dengan menulis, saya menjadi percaya bahwa membaca itu jauh lebih mulia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up