Kejutan Puisi

Orang-orang abad 21, konon jadi manusia yang paling eman soal waktu. Segala hal saling menyeberang batas dan meringkas dengan semudah-mudahnya. Sejak menghadapi internet, kita menghadapi kecepatan. Orang-orang abad 21 merasa sudah selesai mengatasi waktu saat menyaksikan pesan yang dikirimnya sampai di detik itu juga. Meski konon penemuan penting abad 21 itu internet, tapi kita mustahil mengelak, perubahan gawat yang terjadi di abad 21 justru dilahirkan oleh media sosial. Media sosial bukan hanya meringkas cara berkomunikasi, tapi sampai juga ke perkara membaca sastra.

Tahun 2013, dengan senang hati, para pembaca abad 21 menggengam buku Haduh, Aku Di-follow milik Jokpin. Buku berisi  versi cetak kumpulam puisi Jokpin yang ditulis lewat akun twitternya sepanjang tahun 2012. Puisi-puisinya ini diakui penerbit sebagai puitwit (puisi-twitter). Puisi tersaji maksimal 140 karakter, sesuai dengan batas karakter Twitter di tahun itu sangat pas bagi mata malas pembaca.

Puisi pertama yang tersaji menyoal celana, “Nama saya celana./ Saya mencari anak yang tadi mencuri saya/ Ia meninggalkan saya di warung nasi karena keburu dikejar polisi (hlm. 1). Puisi celana juga mengawali ketenaran Jokpin sebagai penyair. Riwayatnya sebagai penyair justru dihitung sejak buku kumpulan puisi Celana diterbitkan. Seolah ia dan diksi celana jadi suatu yang melekat. Dalam buku ini, ia mengamini kelekatan itu, Waduh,/ celanamu tertinggal dalam sajakku/ Sajakku terkunci dan aku tak tahu kuncinya di mana (hlm. 51). Jokpin terasa sadar betul. Tak ada yang bisa melepaskan gembok antara ia sebagai penyair dan puisi celana-nya itu. Diksi celana sudah terkunci dalam namanya.

Konon, diksi celana hadir setelah tujuh belas tahun Jokpin menekuni puisi. Diksi ini bertolak dari pembacaan puisi-puisi Indonesia yang saat itu hanya berkutat seputar senja, angin, laut, hujan dan rangkaian metafor lanskap alam lainnya. Dari diksi celana ini, Jokpin mulai berlarian ke diksi-diksi ramah jangkauan lainnya, seperti “kamar mandi”, “ranjang”, “sarung”, “selimut” dan sebagainya.

Meski begitu, dalam buku Haduh, Aku Di-follow  ini, diksi senja masih sering hinggap dalam puisi-puisinya. Senja tak bisa benar-benar lepas sebagai patokan melankoli puitis. Meskipun Jokpin banyak menghadirkannya sebagai satu subyek utuh. Misal, Senja meninggal secara tragis saat bermain petir/ Hujan menguburnya di ladang banjir (hlm. 12).

Jokpin memang suka menulis sajak-sajak pendek. Dalam wawancara panjangnya dengan Fahri Salam, awalnya puisi-puisi pendek ini untuk mensublimasi proses menulis, sebagai jeda dan intermeso. “Tapi lama-lama menyenangkan”, katanya. Di luar puisi-puisi pendeknya yang telah dibukukan, puisi yang hadir dalam cuitan twitternya  barangkali termasuk dalam hal “yang menyenangkan” itu.

Puisi-puisi Jokpin kebanyakan bukan hanya pendek, ia bahkan sering menulis puisi-puisi yang terdiri dari satu kalimat saja. Terutama yang banyak tampil di buku Haduh, Aku Di-follow ini. Di antara yang banyak itu, kita dapat menjumpai puisi, Rindu disobek-sobek sedikit/ lama-lama menjadi twit (hlm. 19)  atau  Dompetku sedang twit/ Tuhan Sayang/ Sehingga aku lupa sembahyang (hlm. 19). Dalam buku puisi, Kepada Cium, Jokpin turut menyelipkan puisi satu kalimatnya yang berjudul kepada puisi. Puisi/ kau adalah mata/ aku air matamu.

Puisi-puisi pendek itulah yang disasar para pembaca maya. Panjang puisi terasa pas untuk dijadikan status facebook, kepsyen di instagram bahkan  jadi bio di Tinder. Sialnya perkara ini justru diteguhkan oleh penerbit. Puisi-puisi ini hanya dianggap sebagai kutipan ampuh di media sosial. Dalam  epilog buku ini, tertulis; “Siapapun yang bingung mencari kata-kata yang jleb, disarankan untuk membuka buku ini. Haduh Aku Di-follow berisi puitwit [puisi-twitter] @jokopinurbo yang mencakup berbagai tema, dapat sewaktu-waktu menjelma kata yang tepat pada saat yang tepat, dapat digunakan sebagai kutipan untuk pengantar pidato, ucapan selamat, bahan renungan, teman melamun, atau untuk sekadar merayu entah siapa.”

Orang-orang di abad 21 hidup dengan persoalan-persoalan yang begitu rumit. Sampai-sampai penerbit mengandalkan puisi-puisi ini sebagai sekadar “kata-kata yang jleb” demi melipur kepedihan hidup pembaca.

Meski begitu, puisi pendek sebelumnya sangat sulit diterima oleh pembaca kita. Kita pantas mengingat puisi singkat Sitor Situmorang berjudul Malam Lebaran, juga ditulis dalam satu kalimat; “Bulan di atas kuburan”. Puisi Sitor ini pertama dimunculkan di buku Dalam Sajak (1955). Di zaman itu, puisi Sitor tidak dikerubungi like atau retweet macam yang terjadi pada puisi-puisinya Jokpin. Orang-orang masih merasa aneh, heran dan tak berterima pada puisi satu kalimat itu. Di saat ini, barangkali keheranan itu hanya bisa ditandingi oleh puisi Orgasme Tanda Tanya milik Halim Bahriz (2018), yang benar-benar hanya berisi sebuah gambar tanda seru besar. Di saat yang semacam ini, jika kita masih bertanya-tanya mengenai bagaimana seharusnya puisi, seperti yang juga ditanyakan Jokpin lewat puisinya, Siapakah sebenarnya kamu, Puisi?… Kita juga harus menerima jawaban dari puisi itu; Saya adalah kejutan (hlm. 45).

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up