Efek Pram

“Tetralogi Bumi Manusia bagiku bukan sekadar prosa, Bung. Novel-novel itu, api yang membara…”

Lima tahun yang lalu, Mudzi—teman saya dari Jombang—berkata demikian. Saat itu saya belum terlalu mengenal siapa Pramoedya Ananta Toer atau Kuartet Buru-nya yang fenomenal. Saya hanya sering menjumpai kalimat-kalimat sastrawan tersebut yang dikutip kawan-kawan di media sosial. Tidak lebih.

“Kau bacalah ini supaya tahu siapa Pram,” Mudzi menyodorkan Bumi Manusia dengan setengah memaksa sewaktu saya main ke kontrakannya. Sampul buku tersebut lecek dan halamannya berguguran dan aromanya sengak. Saya kira, mahasiswa belahan Yogya manapun tahu, fisik buku semacam itu hanya bisa ditemukan di area Taman Pintar Bookstore. Namun saya menerimanya juga, meski agak terpaksa.

Mudzi suka diskusi dan untuk menyalurkan kegemarannya tersebut, ia memilih bergabung dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Mudzi tidak begitu suka baca novel, kecuali karya-karyanya Pram. Di rak bukunya yang sudah agak lapuk, saya ingat betul, sebagian besar literatur bacaannya adalah esai pemikiran. Dari mulai Tan Malaka, Kuntowijoyo, Emha Ainun Nadjib, Nurcholis Madjid, Gus Dur, dan Ahmad Wahib, dan penulis-penulis dari kelompok kiri-kanan lain yang tidak begitu saya kenal.

Hanya novel-novel Pram, fiksi yang terpacak rapi di rak Mudzi—Kuartet Buru lengkap,  Arus Balik, Larasati, Arok-Dedes, dan Cerita dari Jakarta. Tidak ada yang lain.

“Aku merasakannya Bung. Hal yang harus kita perjuangkan melampui negara: kemanusiaan! Tanpa rasa kemanusiaan, apalah arti sebuah negara?Imbuhnya. “Lha Minke itu, Ontosoroh itu, menurutmu kemalangan macam apa yang menimpa mereka? Tragedi kemanusiaan! Konsep ketidaksetaraan dan bangsa-bangsa yang merasa diri mereka utama. Makanya, mau enggak mau ya ngelawan!”

Setelah hari itu, saya jarang ketemu Mudzi. Ia semakin membenamkan diri dalam ruang akademik dan pergerakan. Opini berbau sarkas, kritis, serta menohok acap kali tampil di blog dan media sosialnya. Ia menaruh perhatian pada konflik-konflik masyarakat lapisan bawah: polemik air dalam pembangunan hotel, konflik agraria, dan perusakan lingkungan. Sesekali, dia juga ikut berorasi pada aksi-aksi solidaritas di jalanan.

Sebagai orang yang baru mengenyam bangku perkuliahan, saya takjub dengan kepribadiannya. Terlebih saat tahu bahwa di sela-sela kerja intelektualnya itu, ia memburuh sebagai penjual roti bakar guna menambal uang saku.

Tentu saya tidak bilang kalau apa yang mempengaruhi Mudzi 100% adalah Pram. Namun bila mengingat bagaimana ia selalu menyinggung Pram, baik saat kami ngobrol santai maupun di sejumlah tulisannya, dapatlah saya lihat bahwa Mudzi meletakkan sastrawan tersebut sebagai bagian dasar pijakan ideologisnya.

Pada mulanya, saya tidak begitu peduli dengan penangkapan Mudzi atas masterpiece-nya Pram. Maka novel Bumi Manusia yang ia pinjamkan dengan setengah memaksa itu, saya biarkan teronggok begitu saja di kamar untuk waktu yang cukup lama. Sampai suatu ketika, lantaran bosan dengan tugas kuliah, saya iseng membacanya dan langsung terpukau. Lalu saya membeli tiga jilid yang lain—Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca—dan menamatkannya semua secara marathon.

Di titik inilah, saya akhirnya bisa mengerti kenapa Mudzi menyebut Tetralogi Buru sebagai api.

Saya pribadi menemukan Minke, seorang keturunan priyayi, yang melewati berbagai fase kesulitan dalam hidupnya, telah berhasil menjadi Sang Pemula dan menyalakan api yang membakar jenggot para penjajah—ia menginisiasi organisas-organisasi modern sebagai wadah bagi perjuangan. Dan saya kira, tidak sedikit orang yang pernah menamatkan empat seri novel ini, ingin menjadi Minke. Bahkan mungkin lebih dari sekadar itu.

“Orang yang serius ingin mengerti Indonesia, mereka harus membaca buku Pram,” tegas Max Lane, Indonesianis asal Asutralia yang pertama menerjemahkan Tetralogi Buru ke dalam Bahasa Inggris, dalam sebuah wawancara eksklusif di media suara.com.

Sayangnya, tidak sedikit yang belum sepakat dengan Max Lane. Cap hantu komunis dari Orde Baru masih mengiringi Pram sampai sekarang. Sehingga, masih ada yang alergi dengan karya tersebut, lebih-lebih penulisnya.

Saya ingat beberapa waktu lalu, rekan saya di Tabularasa.id bahkan sempat mendapat cibiran dari pamannya gara-gara mempromosikan produk merchandise kami di WhatssApp, berupa Totebag yang menampilkan wajah Pram dalam mode Close-Up.

“Ngapain kamu posting orang komunis itu, cepat hapus dan untuk semua orang di grup, anggap postingan anak ini tadi tidak pernah ada.” Demikianlah kira-kira bunyi chat sang paman.

Tapi sekarang kita tahu, Bumi Manusia sedang difilmkan dan sejauh ini aman-aman saja. Jadi saya kira, jumlah orang yang mulai sadar bahwa karya Pram penting sudah banyak, alih-alih menganggapnya propaganda setan merah (baca:komunisme). Di Yogyakarta sendiri, karya-karya lelaki asal Blora itu sudah sering diperbincangkan, dikritik, diapresiasi, bahkan dijadikan refrensi, bukan hanya dalam ranah kesusastraan, melainkan juga pergerakan.

Namun apa sebetulnya relevansi Tetralogi Bum Manusia dengan masa kita saat ini sehingga ia sangat penting untuk dibaca?

Dalam sebuah wawancara di Asumsi.co sastrawan Goenawan Mohammad mengatakan, Sastra Pram sebetulnya sudah agak kadaluwarsa dalam cara ekspresi, pemilihan bahasa. “Nah, ini problemnya kan orang yang bicara soal Pram dan sastra, tidak mengikuti perkembangan,” pungkas tokoh liberal tersebut.

Pernyataan Goenawan Mohammad terkesan sinis dan tak memiliki pijakan kuat dan hanya menyoal teknis—ia malah terkesan bukan musuh ideologi dan intelektual Pram yang sepadan dengan argumen tersebut. Saya lebih sepakat dengan penyair Saut Situmorang. Bahwa bagaimana Pram menguraikan kondisi kehidupan pada zaman kolonial serta pergulatan para tokoh novelnya yang mesti dibicarakan dan dinilai. Sebab di sana terdapat memoar kolektif kita, semangat menuju apa yang sekarang disebut “Indonesia.” Itulah yang bisa kita elaborasi sebagai generasi muda.

Hari ini, sembari menatap wajah Iqbal Ramadhan dalam pamflet Bumi Manusia di gedung bioskop, saya kembali teringat dengan Mudzi. Kalau saja sekarang ia ada di sini, pastilah ia yang paling antusias mengajak saya menonton film tersebut. Atau bisa jadi, lelaki itu justru memilih berdiri di barisan orang-orang yang curiga bahwa Hanung akan menitikberatkan Bumi Manusia pada percintaan Minke belaka, alih-alih perjalanannya menumbuhkan sikap perlawanan.

Tapi saya tahu, hal itu tidak akan pernah terjadi.

Mudzi meninggal pada awal 2016 dan membawa semua semangat idealismenya ke dalam liang lahat. Tubercolosis yang bersemayam di dadanya tak tertanggulangi karena sudah kelewat parah dan ia jarang berobat lantaran tidak punya uang.

Terakhir kali kami ketemu, dia sedang rebahan di atas kasur tipis yang telah berjamur, di kamar kontrakannya. Tubuhnya sangat kurus dan ringkih. Bahkan suaranya terdengar lirih. Kebuasan dan semangat pemuda di matanya telah surut, nyaris padam. Meski demikian, Mudzi tetap bersemangat ketika membicarakan PMII dan Pram, seolah cuma tinggal dua itu saja yang membikinnya tetap hidup.

“Bung,” ia menepuk bahuku sebelum aku pamit, hari itu wajahnya terlihat bersinar seperti baru mendapat pencerahan, “kau jangan khawatir. Aku akan melawan penyakit ini dengan segala yang kubisa. Tapi kalaupun nanti aku kalah, kau tak usah bersedih. Ingat saja kalau aku sudah melawan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

 

Yogyakarta, 2019        

Ilustrasi: Alam Saef

Please follow and like us:
0

Nasib adalah kesunyian masing-masing…

One Reply to “Efek Pram”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up