Bermimpi Dengan Mata Terbuka: Mitos Tunggal dan Implikasi Psikisnya

Sekarang ini, walaupun kita sering menggunakannya untuk menakuti anak kecil yang akan tidur, kita cenderung menyebut mitos sebagai sesuatu yang “dipercayai orang-orang bodoh primitif” atau “hasil rekaan orang zaman dahulu yang tak kenal agama”. Meskipun kemudian kita menghormati keberadaan mitos, ini tidak lebih karena kita menganggap mereka selalu punya 1–2 pesan moral singkat yang bisa dibacakan saat pidato, atau sekedar rasa patriotisme dengan adat setempat.

Mitos sering kita identikkan dengan cerita bohong, tidak sesuai kenyataan, atau tidak ilmiah. Definisi ini sering kita gunakan saat menyebut larangan duduk di depan pintu, pemanasan global, atau mewujudkan masyarakat tanpa kelas, sebagai mitos. Tentu saja definisi yang digunakan secara luas ini tidak menangkap esensi mitos yang sebenarnya. Sejumlah ahli telah mengeluarkan berbagai macam definisi mitos, tetapi Binsbergen memiliki definisi yang cukup lengkap: narasi yang terstandar, dihargai sebagai sangat penting, biasanya digunakan untuk menjelaskan kejadian yang terjadi saat ini, dan ditempatkan sebagai alat untuk menetapkan makna dan kebenaran kolektif di masyarakat. Mitos dapat mencakup gambaran akan dunia, masyarakat, dan keadaan manusia di dalam komunitas tempat beredarnya narasi tersebut.

Pernahkah kita bertanya mengapa mitos terus dipertahankan dalam kebudayaan meskipun modernisasi akan berkata betapa bodohnya hal tersebut? Bisa jadi, selama ini kita cenderung salah membaca mitos. Sejumlah ahli modern mulai melihat mitos bukan sekedar sebagai sejarah atau ilmu pengetahuan alam versi manusia goa, tetapi sebagai penjelas simbolisme psikis manusia: dengan kata lain, psikologi kuno.

Bentuk yang selalu ada

Cukup untuk definisi mitos, sekarang perhatikan narasi berikut: pada awal penciptaan dunia, yang ada hanyalah lautan luas tak berujung. Kemudian, muncul jelmaan ilahi berupa 2 ekor burung bernama Ara dan Iri. Kedua ekor burung ini kemudian menciptakan dua buah telur, yang masing-masing darinya terciptalah bumi dan langit.

Narasi penciptaan di atas adalah kepercayaan Dayak Iban di sekitaran Kalimantan Barat. Narasi ini terdengar unik dan khas, kecuali bahwa Rigveda juga menuliskan kisah penciptaan tentang lautan purba dan sebuah telur, yang membelah dalam waktu 100 tahun ilahi menjadi langit dan bumi. Narasi yang serupa tentang pemisahan langit dan bumi juga dapat ditemukan dalam kisah Yunani tentang Kronos yang memisahkan ayahnya Uranus (langit) dari ibunya Gaia (bumi), ataupun di Mesir kuno dimana Geb (bumi) dan Nut (langit) dipisahkan oleh anak mereka Shu (angin).

Cerita lain, dari Vietnam, menyebutkan terbentuknya semesta dari telur merah (matahari) dan telur putih (bulan), serta terciptanya manusia dari telur, sebagai keturunan Pangeran Naga yang mendiami dasar laut. Munculnya kehidupan dari air juga dicerminkan mitos Mesopotamia kuno tentang penyatuan Tiamat (perwujudan air laut) dan Apsu (perwujudan air tawar) yang menghasilkan dewa langit dan keturunannya. Struktur berupa permulaan kehidupan dari kekacauan primordial atau lautan asali, pemisahan langit dan bumi, dan lahirnya manusia, selalu muncul dalam berbagai jenis mitos, bahkan yang berjarak lintas benua. Terlepas dari kepercayaan kuno, jejak kosmologi serupa juga terlihat dalam agama samawi modern, contohnya dalam Alquran: “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Al-Anbiyaa: 30).

Narasi “banjir besar” juga terlihat dalam berbagai kebudayaan. Dalam hal ini, cukup eksplisit bahwa penggambaran banjir besar dalam kitab-kitab suci agama samawi, epos Gilgamesh, dan Satapatha Brahmana memiliki struktur yang hampir sama persis. Semua versi tersebut menyebutkan tentang banjir besar yang menyapu seluruh daratan, sebagai hukuman Tuhan terhadap dosa manusia, dan sekelompok manusia (dan bisa jadi hewan lain) yang bertahan dalam perahu besar. Perahu ini kemudian tersangkut di gunung tertentu tatkala banjirnya surut (Nishir, Ararat, atau Naubandhana dari berbagai versi), dan manusia kembali menjejakkan kaki di bumi, mendorong timbulnya mitos lain tentang manusia yang turun dari gunung dan memenuhi daratan.

Mt. Ararat, en.wikipedia.org

Selain penciptaan dan penyapuan makhluk hidup seperti dicontohkan di atas, banyak lagi aspek mitos lain dari berbagai kebudayaan lintas benua yang, jika dikomparasikan, memiliki kemiripan yang mencengangkan dari segi tema besar maupun detail. Contohnya, apa yang disebut Joseph Campbell sebagai Perjalanan Hero, mencakup fase-fase petualangan seorang pahlawan mitologis sejak kelahiran hingga mencapai tujuan takdirnya. Keberangkatan dalam petualangan, ujian yang dihadapi sang pahlawan, harta karun yang didapatkan, maupun kondisi kembalinya sang pahlawan dari petualangan, lagi-lagi memiliki struktur yang dominan dan dapat dilacak dari berbagai literatur.

 

Penanggalan mitologis pun memiliki akurasi kemiripan yang menakjubkan. Berossos pernah menulis riwayat Babilonia kuno dalam bahasa Yunani, dan menghitung sejak masa kota pertama di dunia didirikan sampai banjir besar Gilgamesh, telah lewat masa 432.000 tahun. Di lain zaman, Julius Oppert menghitung jumlah tahun yang lewat sejak masa Adam hingga Nuh dalam kitab Perjanjian Lama, yaitu 1.656 tahun, atau 86.400 minggu (dengan kata lain, 2 kali 43.200). Puranas dalam agama Hindu memiliki siklus putaran zaman yang disebut Mahayuga, mencakup 4.320.000 tahun, hingga Kali Yuga yang mencakup 432.000 tahun.

 

Apa yang menyebabkan berbagai jenis kebudayaan yang jauh berbeda memiliki narasi mitos dengan kemiripan luar biasa seperti yang dicontohkan di atas? Para ahli perbandingan mitos biasanya akan mengajukan 2 skenario: teori difusi, yang memandang bahwa mitos pertama kali muncul dalam peradaban pertama di bumi, seperti Mesopotamia atau Mesir kuno, dan menyebar secara bertahap ke seluruh belahan dunia seiring penyebaran penduduknya. Akan tetapi, beberapa alasan membuat sebagian ahli berpegang kepada teori kedua, yaitu arketipe, yang menjadi fokus pembahasan tulisan ini.

 

Arketipe abadi

Sejumlah besar binatang seperti rusa, kuda, kambing dan beberapa jenis kerbau sudah memiliki kemampuan untuk berjalan dalam waktu singkat setelah dilahirkan. Spesies lain yang memiliki kebiasaan bermigrasi dapat bergerak dengan mencontoh induknya dalam waktu singkat setelah lahir. Hiu saling memangsa saudaranya sejak masih berupa embrio di rahim induknya. Anak ayam dapat berlindung dari elang tanpa melihatnya sebelumnya. Penyu langsung mencari lautan sesaat setelah menetas. Binatang-binatang ini memiliki refleks bawaan yang kompleks untuk membantunya bertahan hidup segera setelah lahir. Refleks ini bereaksi dengan stimulus-stimulus spesifik yang berperan sebagai “kunci” untuk mengaktifkannya.

 

Bagaimana dengan manusia? Para ahli berspekulasi bahwa otak manusia yang besar menyebabkannya harus dilahirkan secara “prematur”, dengan kata lain tanpa memiliki refleks yang kompleks untuk bertahan hidup. Hal ini diperkirakan membawa keuntungan tersendiri, karena manusia mendapatkan periode pengasuhan sosial yang sangat panjang pada masa kanak-kanaknya, ditambah kesempatan mendapatkan nutrisi yang lebih banyak, arena otaknya memakan banyak energi. Meski begitu, manusia tetap memiliki refleks infantil tertentu, seperti menghisap ASI. Sistem ini tampak lebih fleksibel pada manusia daripada hewan.

 

Terdapat pandangan bahwa manusia pun memiliki seperangkat gambaran dalam sistem pikirannya, yang dapat diaktifkan pula oleh stimulus-stimulus spesifik untuk memunculkan kondisi mental tertentu. Konsep tentang “ide dasar” ini dipelopori oleh Adolf Bastian, dan dikembangkan lebih jauh oleh Carl Gustav Jung sebagai perangkat arketipe. Jung berpendapat bahwa manusia memiliki ketidaksadaran personal (mencakup pengalaman, hasrat, dan ingatan individu), dan ketidaksadaran kolektif (bagian tidak sadar yang dimiliki makhluk dalam spesies sama). Arketipe, atau gambaran dan pola pemikiran tidak sadar ini, dimiliki oleh semua spesies manusia dan memiliki pola yang sama.

 

Kesamaan pola psikis inilah yang membuat narasi mitos di seluruh kebudayaan manusia memiliki kesamaan yang akurat. Pola ini dapat membentuk garis besar narasi mitos, dan bumbu-bumbu etnologis semisal keadaan sosial dan lingkungan yang akan memberikan variasi pada alur mitos tersebut. Arketipe dapat berwujud kejadian (kelahiran, kematian, penyatuan unsur yang berlawanan, perkawinan, dan lainnya), sosok (Ibu Agung, Ayah, Iblis, Penipu, Orang Tua Bijak, Pahlawan, dan lainnya), atau motif (air bah, kiamat, penciptaan). Komponen-komponen kejadian, sosok, dan motif tersebut dapat bersilangan menjadi sebuah narasi mitos psikologis, yang kemudian divariasikan lagi oleh keadaan lingkungan dan sosial tempat narasi tersebut terjadi.

 

Inilah yang mendasari lahirnya “mitos tunggal” di seluruh belahan dunia. Lalu, bagaimana dengan penjelasan difusi yang menyatakan bahwa mitos ini berasal dari 1 peradaban tunggal yang kemudian mewariskannya saat penduduknya menyebar? Bukankah teori ini sudah menjelaskan semuanya? Bisa jadi, tetapi psikolog klinis seperti Carl Jung dan Sigmund Freud menemukan simbol-simbol mitologis dalam mimpi pasien-pasiennya yang seharusnya tidak memiliki akses terhadap kebudayaan yang memiliki mitos tersebut. Rhoda Kellog menganalisis gambar yang dibuat anak-anak prasekolah dan menemukan bentuk-bentuk yang serupa mandala di sejumlah kebudayaan Asia (bahkan mandala dapat menjadi pertanda kestabilan psikis pada terapi seni anak-anak). Hal ini yang menjadi dasar argumen bahwa simbolisme mitologis ini sesungguhnya memiliki dasar di dalam pikiran, dan bukan sekedar disebarkan penduduk suatu peradaban.

Fungsi mitos

Apa itu yang membedakan manusia dari makhluk lain? Jika ukuran otak adalah segalanya, tentu paus jauh lebih berdaya daripada manusia. Apakah perbandingan ukuran otak dengan tubuh? Maka manusia Neanderthal akan menjadi spesies yang paling maju. Akan tetapi, Homo sapiens, atau yang kita sebut sebagai manusia sekarang, yang berada di puncak hierarki makhluk hidup. Yuval Noah Harari menekankan bahwa kemampuan manusia untuk membangun makna intersubjektif (konsep-konsep abstrak yang bermakna dalam hubungan sosial seperti uang, negara, dan agama) yang membedakannya dengan spesies lain. Mitos dimaksudkan untuk membangun makna intersubjektif tersebut. Kebutuhan akan hal ini semakin kuat mengingat meningkatnya jumlah populasi manusia dalam satu komunitas semenjak revolusi agrikultur.

Meminjam istilah Campbell, yang diadopsinya dari filsafat India klasik, ada perbedaan antara maksud manusia untuk mencapai tujuan, dan maksud manusia untuk membebaskan diri dari “kebertujuan” itu sendiri. Tujuan yang dimaksud dibagi menjadi 3: kama (secara kasar berarti cinta dan kenikmatan, yang menjadi nama kitab “kamasutra”), artha (secara kasar berarti harta atau kekuasaan, yang menjadi nama kitab “arthashastra”), dan dharma (secara kasar berarti nilai kebajikan, atau realitas tertinggi). Untuk mencapai kama dan artha, manusia akan menunjukkan hasratnya sejak lahir (menurut Freud dan Adler) sehingga tidak perlu diajarkan. Dharma, di sisi lain, dianggap sebagai tujuan yang seharusnya mengatur kedua tujuan sebelumnya. Manusia perlu diajarkan untuk mengikuti dharma, sehingga pendidikan berperan dalam situasi ini. Peran pendidikan ini dilakukan melalui mitos.

 

Fungsi mitos sebagai alat pendidikan dimunculkan dengan memanfaatkan arketipe yang tertanam pada psikis manusia: setiap kejadian, sosok, dan motif arketipe dapat memunculkan respon psikologis dan perilaku tertentu, dan hal inilah yang dirajut dalam mitos. Salah satu mekanisme yang dimanfaatkan mitos dalam pendidikan adalah ritual. Dalam ritual, menggunakan kostum, arsitektur tertentu, dan properti lainnya, pendeta atau shaman membawa peserta ritual tersebut membawakan simbol-simbol pikiran bawah sadarnya ke dunia nyata: menciptakan situasi “bermimpi dengan mata terbuka”. Dalam kondisi ini, pemandu ritual akan meningkatkan level kesadaran pesertanya menjadi sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.

Masyarakat Spartan kuno memiliki ritual krypteia yang mengharuskan seorang remaja membunuh targetnya (biasanya budak) agar dapat dianggap sebagai pria dewasa. Ritual pendewasaan suku Satere-Mawe mengharuskan sang remaja memasukkan tangannya dalam jahitan daun penuh semut peluru (Paraponera clavata). Di masyarakat modern, kita masih dapat melihat fungsi ritual ini dalam upacara-upacara pelantikan dan wisuda. Tujuan ritual ini? Untuk memberikan penanda bagi individu bahwa dirinya telah memasuki tahapan kehidupan yang jauh berbeda dari yang selama ini dijalaninya. Tahapan kehidupan yang lebih tinggi ini membutuhkan kesadaran yang lebih tinggi pula, dan itu yang dimunculkan dalam ritual.

Satere-Mawe, tribunnews.com

Jelas sudah, makna intersubjektif yang dihasilkan mitos tak lain adalah untuk mempertahankan pemenuhan kama, artha, dan dharma agar tetap seimbang walaupun generasi berganti. Tetapi, ada maksud lain yang juga dapat didapatkan melalui mitos, yaitu maksud melepaskan diri dari “kebertujuan”. Mitos dapat bangkit dari kekaguman seseorang akan keajaiban alam, demi menjelaskan misterinya sambil diliputi ketakjuban. Terkadang, dalam kekagumannya mengamati keteraturan dan harmoni alam semesta, manusia dapat berada dalam kondisi dimana ego melarut dalam kekosongan pikiran dan tidak dibutuhkan lagi pembedaan baik buruk dalam kehidupan. Keadaan tersentuh ini, berusaha dimunculkan kembali oleh manusia dengan meniru keteraturan alam semesta yang dikaguminya. Karena itu manusia memiliki impuls untuk menghasilkan seni, atau untuk menggaungkan keindahan alam dalam keteraturannya, demi pengalaman hidup yang lebih tinggi (kaum mistik dan sufi sering memasukkan kesenian dalam praktek penyembahannya, melalui sastra maupun tarian dan kesenian lainnya, guna mencapai pengalaman ini).

Karena itu, meskipun banyak cara untuk menafsirkannya, mitos dalam bentuknya yang terdalam mungkin berfungsi mengingatkan bahwa manusia adalah penghuni alam semesta, sekaligus alam semesta itu sendiri.

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up