Belajar Memaknai Hipotesis

“Yaaah, hipotesis penelitianku ditolak”, celetuk salah satu teman saya saat kami meneguk segelas kopi. Kalimat itu seperti menandakan angan-angan indahnya hancur. Saya lantas bertanya padanya, “apakah semua penelitian itu hipotesisnya harus diterima?”. Tidak.

Bagi sebagian kita yang merasa kaum terpelajar, khususnya mahasiswa yang pernah melakukan penelitian (minimal skripsi atau tugas penelitian), umumnya ingin hasil penelitian sesuai dengan harapan kita. Keinginan yang saya maksud di sini biasanya adalah mengharapkan hipotesis penelitian itu diterima. Hinnga, apabila hipotesis itu ditolak, runtuh sudah mimpi indah itu. Akhirnya, banyak dari kita yang kehilangan stamina untuk mengerjakan penelitian itu dengan sepenuh hati. Banyak juga yang seperti kehilangan gairah sebagai seorang pembelajar.

Hai kawan, ketahuilah hakikat dari penelitian itu sendiri. Penelitian yang kita lakukan sejatinya adalah sebuah upaya untuk menutupi lubang-lubang yang terdapat dalam sebuah ilmu, konsep, temuan, gagasan, maupun penelitian orang (atau tokoh) lain. Jadi, jangan pernah sekali-kali kita berharap bahwa penelitian yang kita lakukan itu sesuai dengan hasil teori mainstream yang ada saat ini. Kita semestinya memiliki semangat yang kuat dalam menemukan kelemahan-kelemahan teori yang memiliki banyak bias.

Begini saja, saya batasi dulu pembicaraan ini. Saya tidak sedang membicarakan penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif. Saya berbicara riset-riset yang menggunakan paradigma kuantitatif. Mengapa? Sebab paradigma kuantitatif, khususnya di dalam Ilmu saya Psikologi sangat bergantung pada sebuah teori. Teori-teori dasar ini umumnya berkiblat pada konsep-konsep barat.

Penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif biasanya mengidentifikasi sebuah variabel berdasarkan konsep-konsep barat. Konsep tersebut kebanyakan dilahirkan dari pendalaman-pendalaman dinamika orang barat. Pertama, kita di Indonesia, teori-teori itu bisa jadi mengandung bias. Bias budaya, bias kognitif, dan bias-bias yang lainnya. Oleh karena itu, tidak bijak apabila kita sebagai orang Indonesia sangat yakin bahwa teori-teori itu relevan. Sebagai seorang pembelajar dan peneliti, kita harus memiliki sikap skeptis. Tidak mudah percaya dan selalu mempertanyakan kebenaran dari berbagai sudut pandang.

Kaitannya dengan penelitian, kita harus selalu mempertimbangkan segala kemungkinan yang ada dengan meruntuhkan kecenderungan kita terhadap topik penelitian tersebut. Mengapa? Pendekatan kuantitatif kan bebas nilai sob, jadi kita harus objektif. Bahasa kerennya itu kita tidak berkawan dan juga tidak mencari lawan. Harus melihat pusaran dinamika fenomena dari luar arus.

Oke, inti yang mau saya sampaikan adalah, sebagai seorang pembelajar, kita harus memiliki semangat mengkritisi dan memperbarui ilmu yang ada. Banyak orang yang bilang apabila “teori itu beda sama praktek”. Saya tidak sepenuhnya sepakat dengan hal itu, karena adanya teori itu sendiri disebabkan karena praktek-prektek di lapangan. Apabila teori tidak sesuai dengan realita, artinya teorinya harus diperbarui. Mengapa? Karena kehidupan sosial manusia ini selalu dinamis dan berubah, oleh karena itu kita sebagai pembelajar harus turut serta menciptakan teori yang mengikuti dinamika kehidupan.

Hipotesis penelitian kita ditolak, bukanlah sama artinya dengan harapan kita berakhir. Justru itu menjadi peluang tersendiri untuk mencari tahu sabab-musababnya. Kesempatan yang tepat untuk instropeksi diri, menelusuri kesalahan kecil maupun besar yang kita lakukan. Mengaudit kembali setiap metode yang kita laksanakan.

Dengan ditolaknya hipotesis kita, bisa jadi itu merupakan sebuah petunjuk dari Tuhan bahwa kita terpilih sebagai orang yang menemukan kelemahan sebuah teori. Kita mesti membalik pola piker yang negatif. Seperti yang saya katakan sebelumnya, penelitian itu tidak hanya bertujuan untuk membuktikan sebuah teori atau penelitian-penelitian sebelumnya, tapi juga menemukan teori baru dari lubang-lubang yang ada pada teori sebelumnya. Inilah hakikat penelitian dan yang seharusnya para pembelajar seperti kita ini lakukan. Sekian curhatan saya. Terimakasih.

 

 

 

 

sumber gambar: webdesign.tutsplus.com

Please follow and like us:
0

Bukan paranormal, serius dah….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up