Aku Tidak Seperti yang Mereka Kira

Malam itu, aku tengah duduk seorang diri di sebuah warung kopi. Lokasinya tepat di jantung Kota Jombang, Jawa Timur. Warung itu cukup ramai oleh pria yang mendominasi tempat tersebut. Mereka datang dari penjuru desa, bahkan, ada juga yang dari kampung. Ada yang datang hanya untuk menyeduh kopi panas, ada yang datang hanya menumpang wifi, dan ada juga orang yang ingin berbincang dengan kawannya, seperti aku.

Waaarr…weeerrr…worr… Sembari aku menyeduh kopi susuku, suara knalpot sepeda motor tiada henti menambah kebisingan warung yang bertepatan ada di sebuah perempatan.

Biasalah motor orang desa, sok racing…

Tingg… Tiba-tiba ponselku berbunyi. Sebuah notifikasi Whatsapp dari Wiby terpampang jelas di layar utama. “Sek, 20 menit maneh aku sampek. Aku jek jemur klambi”. Begitulah isinya. Tapi aku mengabaikannya, karena aku sendiri juga bingung harus menjawab apa.

Sebelumnya, aku telah membuat janji dengan Wiby, dan menjelaskan aku akan pulang kampung. Wiby adalah kawanku semasa aku tengah hidup di pesantren dulu. Ia juga sekelas denganku saat aku menjalani pendidikan di salah satu Madrasah Aliyah Negeri. Cukup periang memang. Suka juga membahas hal-hal yang tak penting dan yang pasti, kehadirannya akan mengurangi segala pikiran-pikiran yang membosankan dalam otakku.

Saat ini ia masih saja mengabdi dan melanjutkan pendidikannya di sebuah pesantren yang dulunya pernah aku tempati. Cukup terkenal di Jombang. Selama wisudua kelas akhir, hampir tak pernah kita melangsungkan komunikasi secara intensif.

Setelah mendapatkan notifikasi dari Wiby, aku memutuskan untuk mengambil bukuku yang ada di dalam tote bag warna putihku dan membacanya. Rebel Notes: Catatan Seniman Pemberontak, itulah judulnya.

“Permisi mas,” Tiba-tiba seorang wanita, kira-kira berumur 24 tahun dengan baju berwarna hitam dan rok mininya, serta membawa sebuah tas berwarna merah yang melingkar di lekukan sikunya menghentikan bacaku di halaman 22. Ia adalah SPG rokok “Mau rokok, Mas? Ini lagi promo, loh.”

“Oh, engga, Mba, aku lagi engga ngerokok, nih.”

“Ayo dong, Mas,” Dengan senyum sedikit memaksa, ia terus melawanku agar aku membelinya. “Nanti Masnya aku kasih nomorku deh.”

Lah buset… segitunya ya, nih orang.

“Waduh, maaf, Mba, mungkin lain waktu saja.”

“Mas, kapan lagi ketemu aku? Iya kalau aku besok masih nawarin disini, kalau engga?”

“Ya, artinya belum waktunya ketemu lagi, Mba. Hehehe…”

Ini orang kerja totalitas banget, sih. Heran aku.

“Oh, yasudah,” bibirnya merengut, dahinya mengerut, aku yakin dia sangat kecewa. “Mungkin Mas-Mas yang lain mau sama rokokku. Makasih, Mas.”

Belum sampai aku meminta maaf dan mengucapkan terimakasih, dia telah pergi meninggalkan mejaku.

Masih ku pandangi dia dari mejaku. Ia melangkah menjauh dan mendekati meja yang lain. Meja itu ditemapti oleh 4 pria. Sembari ia menawarkan rokok kepada satu pria, tampak beberapa pria yang lain mencoba menggodanya. Sepertinya, mereka telah bersekongkol dan bagi tugas.

“Mas, beli rokok, dong,” Tangan kanannya menyodorkan tiga bungkus rokok, dan tangan kirinya menggenggam tablet putih berukuran 6 inch. “Nanti kalau beli, dapat nomorku, deh. Trus, kalau beli tiga sekaligus, gratis nge-date sama aku, deh.”

“Aku wes onok rokok iki, Mba. Nek nomor ambek nge-date tok, aku gelem.” Kawan-kawannya pun tertawa bak ada hal yang sangat lucu. Terpingkal-pingkal. Saling pukul ke kawannya yang lain dengan maksud mencari perhatian.

“Ayoo, dong, Mas. Siji wae wes…”

Ora wes…” Mata genitnya melirik ke paha wanita itu. “Gawe rok semunu opo ra adhem, Mba?”

Wanita penjual rokok juga ikut melirik pahanya sembari menarik turun rok mininya. Tampak senyum di bibirnya yang berlipstik warna merah bata itu seperti memberi isyarat: ia malas menanggapi catcalling-nya.

Akhirnya si wanita pergi dari meja itu…

Sambil melangah menjauh dari meja itu, tampaknya ia menggelengkan kepalanya ke arah lainnya. Ternyata, ada seorang pria yang berpakaian rapi sedang berdiri dan bersandar dekat pintu. Hitam bajunya dan celananya. Jam tangan melingkar di tangan kirinya. Ponsel ber-case hitam tak luput dari genggaman tangan kanannya. Pria itu akhirnya membalasnya. Ia mengangguk. Lantas, pergi.

Wanita itu juga pergi…

Pergi dari warung yang ku tempati…

Ku lihat pria dan wanita itu menaiki mobil yang sama. Menghidupkan mesin.

Bruummm….

Mobil itu pergi…

Hingga sampai suara mobil itu mengecil…

Semakin kecil…

Dan akhirnya tak terdengar sama sekali…

***

Aku berfikir, apa arti tanda gelengan si wanita SPG? Apakah wanita itu kesal? Marah? Atau Sedih? Tapi itu semua tak cocok jika dicocokan dengan anggukan si pria. Lantas apa? Aku yakin, itu semua hanya kode-kode yang dibuat oleh mereka. Karena aku tak pandai dalam hal semiotik, maka aku tak berani memberi kesimpulan.

“Wooiii anjeenggg!!!” Aku terkejut, bahkan hampir meloncat dari kursi panjang yang terbuat dari kayu. Wiby menyadarkan lamunanku.

“Bajilak!” jantungku masih dag-dig-dug, dag-dig-dug-duarr bagai kuda perang yang akan perang. “Ngejak sumuk awakmu?”

“Santai kaya di jamban, lah,” sembari menata kursi agar duduknya nyaman. “Dewean wae awakmu, ndes?”

“Kagak… itu banyak orang. Noh.. nooh… noooh….” Ku tunjuk pengunjung warung yang lain satu per satu, meskipun gurauanku sedikit garing, tapi masa bodoh. Kepalanya menunduk, menghadap ponselnya. Jari-jarinya bergerak tiada henti, dengan jago dia mengendalikan hero-nya. Permainan MOBA yang sedang naik daun: Mobile Legend.

“Haha.. hoho… huhu… lucu…” Wiby berdiri, dan menghadapku dengan serius. Wajahnya diam seribu bahasa. “Aku pesen, sek!

Bocah edan!

Aku kembali mengotak-atik ponselku. Membalas satu persatu pesan online yang sengaja ku timbun dari tadi. Bukan ku timbung, tapi lebih tepatnya lagi: malas. Beberapa pesan online yang tak penting memang ku diamkan. Seperti: hanya menemani berbalas pesan, curhatan, atau hal-hal yang tak penting lainnya.

Kanan, kiri, kanan, kiri, kanan, kiri.  Melirik sana-sini, berharap ada kawan yang ku kenal lainnya dan berkumpul bersama membahas bahasan yang dapat mengendurkan saraf otak. Tapi, nihil! Tak ada satu pun orang yang ku kenal di tempat ini.

Aku teringat, dulu semasa aku masih hidup di lingkungan pesantren. Ketika waktu kosong, ku sempatkan untuk duduk berjam-jam disini. Tempat perkumpulan lama. Jelas ku rindukan. Bahasan-bahasan yang lalu, bukanlah bahasan-bahasanku yang sekarang. Tentu di hati pasti ingin mengulanginya lagi. Itu pasti! Tapi yang jelas ku yakini yaitu: kita semua terus merawatan ingatan itu.

Sorry, lama.”

“Santai..” aku membenarkan dudukku, dan bersiap untuk mengobrol. “Gimana kuliahmu? Aman terkendali, kan?”

“Walaah… ngunu-ngunu wae. Ga ono perubahan. Pancet koyo biasane.”

“Kegiatanmu nek pondok?”

“Alaah, paling yo mangan, turu, ngaji. Ngunu wae sampe kiamat.

“Buseett, produktif banget wakmu!”

“Produktif apane, ndes?”

“Produktif mencipatakan pengangguran-pengangguran baru. Hahaha…”

“Asem! Emang kegiatanmu sekarang apaan?”

“Mempertahankan sesuatu.”

“Sesuatu itu apaan?”

“Pengangguran!”

Hening. Wiby membuka handphone dan membalas pesan-pesan online yang entah dari siapa. Aku kembali membuka bukuku yang ku diamkan dari tadi. Tergeletak beberapa menit di samping gelas.

Pada halaman 19,  Bob Dylan menuliskan:

Para penampil adalah orang-orang yang tampil untuk orang lain.

Apa maksudnya? Apakah pengemis harus berpakaian compang-camping agar terlihat menjadi seorang pengemis? Haruskah dokter dengan pakaian putihnya agar bisa mengobati pasien? Apakah sedemikian itu, manusia memikirkan hal-hal yang tak penting?

Tapi sebentar… ku padukan dengan halaman 17.

Sebenarnya ketika kau memikirkannya, maka segala hal yang tidak memiliki eksistensi riil akan menjadi fenomena internasional.

Masuk akal juga. Tapi terkesan paranoid. Bob Dylan menghempaskan celotehnya di dalam tulisannya:

“Istilahnya bukanlah ‘fenomena internasional’, melainkan mimpi buruk parental.”

Logika yang bagus. Sebelum aku mengetahuinya, ternyata seorang seniman juga bisa berfikir kritis dengan diksi-diksi filosofis. Jujur aku tertegun. Tak kusangka mereka semua adalah seniman yang beridealis—bagi seniman yang beridealis, yang tidak beridealis, ya tentu tidak.

Tiba-tiba aku teringat oleh si wanita penjual rokok tadi. Aku berfikir, kira-kira seperti apa pikiran wanita itu? Aku memaksa untuk meminjam kata-kata Bob Dylan dan aku gabungkan.

“Tong, Otong!” Tiba-tiba aku membuka pembicaraan dan ingin mendiskusikannya dengan Wiby. Ya, meskipun konsekuensinya aku akan kehilangan waktu untuk membahas tak penting. Tapi aku sudah siap. “Aku tadi ketemu wanita penjual rokok. Dia pakaiannya minim. Kira-kira apa yang kau fikirkan?”

“Tumben ngajak ngomong penting?” Bola mata Wiby berhenti bergerak. Selama aku berteman dengannya, saat matanya berhenti bergerak, tandanya dia lagi berfikir. “Sepertinya dia melakukan karena paksaan. Aku yakin dia tak selalu ingin mengunakannya di tempat seperti ini.”

“Sepaham! Aku justru kasihan. Banyak hal yang membuatku kasihan, salah satunya: hasil paksaan itu!”

“Bagaimana kamu bisa memetakan konsepmu hingga kau dapat menyimpulkan itu semua paksaan?”

“Faktor ekonomilah yang membuat dia seperti itu. Dia bangun dari penderitaannya. Dia melamar kerja. Tuntutan dari pekerjaan itulah yang membuat dia rela digoda karena pakaiannya.” Aku berhenti untuk berbicara dan meminum pesananku: kopi susu hangat. “Sebenarnya kita tak bisa menjastifikasi bahwa pekerjaanlah yang membuat ia rela berpakaian seperti itu.”

“Lalu?”

“Kita juga harus melihatnya dengan faktor pendidikan. Menurutm bagaimana dengan pendidikan?”

“Ya. Bagiku itu penting juga. Menjadi seorang PSG rokok tidak memerlukan pendidikan yang tinggi.

“Lantas?”

“Menurutku, disitulah akar permasalahannya. Dimana pendidikan akan menentukan mutu kerja sumber daya manusia. Maka, yang dialami oleh wanita yang kau ceritakan itu tidaklah dia mendapatkan pendidikan yang dapat menunjang karirnya.”

“Jadi dia akan mengambil sikap pragmatis dalam menjalankan pekerjaannya?”

“Iya.”

“Lalu, apa yang akan menjadi modal buat si wanita itu, jika bukan pendidikan?”

“Kamu tak tahu? Astaga!” Dia tertawa, seolah meledekku dengan segala prasangkanya kepadaku. “Jadi modal yang digunakan oleh wanita PSG rokok itu, ya, tubuhnya. Makin paras wajahnya; makin semampai tingginya; makin berisi tubuhnya; semakin plus-plus pula harga yang ditawarkan.”

“Oh, begitu… Sungguh kasihan…” Aku mengerutkan dahiku, karena aku baru tau dari sisi sosiologisnya. “Aku baru ingat, kalau menggunakan teori interaksi simbolik Erving Goffman, pakaian mini sangat mendukung pekerjaan di lingkungan serta jam kerjanya. Artinya, pakaian minim itu menjadi sebuah alat ketertarikan bagi lawan jenisnya, mengingat juga, kaum Adam adalah kaum perokok. Jadi sasaran utama dalam penjualan rokok tersebut adalah pria.”

“Meskipun dengan teori seperti itu, apa ada jaminan dari stigma masyarakat?”

“Nah, disitulah letak efek sampingnya, Wib. Semua yang ada di semesta itu tidak terlepas dari stigmasisasi. Stigma as a sign or a mark that designates the bearer as “spoiled” and therefore as valued less than normal people, kira-kira begitulah kata Goffman.”[]

 

Ilustrasi oleh: Mydiah Roro Hartaningrum

Please follow and like us:
0

Berjalan-jalan dahulu, lalu lelah dan meyerah di kemudian hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up